Tampilkan postingan dengan label Sosok Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

Suatu Amalan yang Menjadi Rahasia Sukses Bos Kebab Baba Rafi


Hendi Setiono, Bos Kebab Baba Rafi

Hendi memulai bisnisnya di usia 20 tahun setelah men-DO-kan diri Jurusan Teknik Informatika ITS. Modalnya Rp 4 juta. ‘’Duit pinjaman arek-arek dan saudara,” katanya. Tentu tidak jreng langsung sukses seperti sekarang. ‘’Saya pernah jatuh bangun, bakan berdarah-darah.”

Kini Karyawannya mencapai 700 orang, 200 diantaranya berpendidikan S1 hingga S2. Omzetnya puluhan miliar, dan 25% di antaranya masuk kantong Hendi sebagai laba bersih. Kebabnya juga menjangkau Malaysia, lewat bendera Baba Rafi Malaysia Sdn Berhad.

Rahasia suksesnya

Salah satu ‘’10 Tokoh Pilihan 2006’’ versi majalah Tempo ini menyebut satu amalan penting: sedekah. Ini pun bukan sembarang sedekah, melainkan jurus sedekah khas Wisatahati asuhan Ustadz Yusuf Mansur.

“Saya yakin istilah ‘inden rezeki’. Orang biasanya membayar zakat 2,5 persen dari keuntungan. Saya membaliknya, sebelum ada untung, harus bayar zakat dulu,” ungkap Hendi yang rutin bersedekah ke tujuh yayasan yatim-piatu. “Pokoknya, kalau omzet turun, kita hajar dengan sedekah,” ia menegaskan.

Dengan kesadaran itu pula, Hendi hampir tak pernah menghambur-hamburkan uang untuk hobi yang hedonis semisal clubbing di tempat hiburan malam.

“Kalau jalan-jalan ke mal, itu rutin. Tapi, saya dan keluarga tidak konsumtif. Paling-paling hanya lihat tren fashion saat ini untuk diterapkan ke bisnis saya. Misalnya, untuk desain pakaian karyawan dan outlet-outlet,” ujar pria kelahiran 30 Maret 1983 ini.

Ingin lebih banyak membantu sesama, bapak dari Rafi Darmawan, Reva Audrey Sahira, dan Ready Enterprise ini lebih suka memakai uangnya untuk melebarkan sayap bisnis. Misalnya, dia kini merintis gerai Roti Maryam Aba-Abi, roti khas Timur Tengah. Sekarang sudah puluhan outlet di Jawa Timur.

Salah satu ‘’Duta Mandiri’’ ini juga mendirikan Baba Rafi Palace. Sudah ada dua pondokan megah yang disewakan di Surabaya. “Di Siwalankerto, ada 18 kamar dengan tarif Rp 700 ribu per bulan per kamar. Lalu di Prapanca ada 16 kamar, tarifnya Rp 1,2 juta per bulan,” ia mengungkapkan.

Perjalanan Sang Tuna Wisma Menjadi Miliarder


Chris Gardner Lahir di Milwaukee, Winconsin pada 9 Februari 1954, dengan nama lengkap Christopher Gardner kehidupannya dimulai dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, yang diasuh oleh orangtua tunggal, yaitu ibunya. 

Ibunya yang bekerja sebagai guru dan juga mengambil berbagai pekerjaan sambilan masih saja tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Ayah, adalah pribadi yang tidak pernah ia kecap dan itu sangat mempengaruhi kehidupannya. Dalam pertumbuhannya, Gardner berpindah dari rumah saudara ke rumah panti asuhan. Hingga Gadner memasuki sekolah militer, Gadner baru tahu bahwa tempat terburuk di dunia ini adalah rumah dimana ia tinggal bersama ibunya dan ayah tirinya. Penyiksaan yang diterimannya dari ayah tirinya ternyata lebih kejam dari pada disiplin militer Amerika Serikat.

Setelah putus sekolah tinggi, Gardner berbohong tentang usia dan bergabung dengan US Navy. Ia berharap untuk menjadi seorang tenaga medis dan bisa keliling dunia, tetapi itu tidak pernah dicapainya. Ia hanya sampai di North Carolina. Namun, pengalaman itu memperkenalkan Gardner ke ahli bedah jantung, yang kemudian mempekerjakan Gardner sebagai asisten penelitian klinis di University of California Medical Centre di San Francisco. Gardner menikmati pekerjaan, tetapi ia hanya memiliki penghasilan $ 7,400 per tahun dan ia ingin lebih.

Gardner bermain-main dengan gagasan untuk menjadi seorang dokter, tapi ia memutuskan bahwa tahun-tahun melunasi pinjaman untuk sekolah medis bukanlah untuk dia. Sebaliknya, ia menjadi penjual alat medis, dengan penghasilan $ 16.000 per tahun. Dia memuat peralatan ke mobilnya pada suatu hari dan sesuatu terjadi yang akhirnya mengubah kehidupan Gardner untuk selamanya. Ia melihat Ferrari merah terang dan langsung jatuh cinta pada semua yang diwakilinya. “Saya bertanya kepada pria pemilik Ferrari itu dua pertanyaan,” kenang Gardner. “Salah satunya, ‘Apa yang Anda lakukan?’ Yang kedua adalah,’ Bagaimana Anda melakukan itu? ‘”

Seperti sudah ditakdirkan, pengemudi Ferrari adalah seorang pialang saham. Ketika Gardner mendengar bahwa orang itu berpenghasilan lebih dari $ 80.000 sebulan, ia memutuskan bahwa menjadi pialang saham adalah masa depannya. Dia tidak punya pendidikan, tidak ada pengalaman, dan tidak ada koneksi, tapi itu tidak menghentikan Gardner dari mencapai mimpi barunya.


Banyak Kemalangan

Kemalangan hidup yang dialami bersama anaknya justru kian bertambah pasca kepergian istrinya. Tagihan pajak yang belum dibayar membuat pihak IRS menyita uang tabungan Chris Gardner. Kemudian dia juga diusir dari apartemen karena menunggak pembayaran. Mobil satu-satunya milik Chris Gardner pun diamankan karena Chris tidak membayar uang parkir.

Chris Gardner tetap tegar dan mencoba mendaftar pelatihan untuk menjadi pialang saham pada perusahaan pialang saham Dean Witter. Pada pelatihan itu Chris tidak mendapatkan bayaran. Dia bersama 19 orang peserta lainnya bersaing untuk menjadi satu orang yang akan dinyatakan lulus dan dapat bekerja di perusahaan tersebut. Kali ini dia menjadi pemenangnya, sebagai satu-satunya orang yang terpilih menjadi pialang.

Pada tahun 1983 bergabung dengan Bear, Stearns & Company. Setelah menjadi seorang penjual dengan penjualan tertinggi di San Francisco dan kemudian di New York, Gardner keluar dan Pada tahun 1987, Chris Gardner mendirikan perusahaan pialang, Gardner Rich & Co, di Chicago, Illinois, sebuah perusahaan pialang yang mengkhususkan diri dalam pelaksanaan utang, ekuitas dan transaksi produk-produk derivatif untuk beberapa lembaga terbesar negara, pensiun publik dan serikat pekerja .” Perusahaan baru itu

dimulai nya di apartemen kecil Presidential Towers, dengan modal awal sebesar $ 10.000 dan perabot: meja kayu yang berfungsi sebagai meja makan keluarga. Gardner dilaporkan memiliki 75 persen dari perusahaan pialang saham dengan sisanya dimiliki oleh perusahaan hedge fund. Dia memilih nama “Gardner Rich” untuk perusahaannya karena ia menganggap Marc Rich, pedagang komoditi yang diampuni oleh mantan presiden Bill Clinton pada tahun 2001, “sebagai salah satu perusahaan berjangka yang paling sukses di dunia.”

Setelah Gardner menjual sahamnya di Gardner, dalam kesepakatan jutaan dolar pada 2006, ia menjadi CEO dan pendiri dari Christopher Gardner International Holdings, dengan kantor di New York, Chicago, dan San Francisco. Selama kunjungannya ke Afrika Selatan untuk mengamati pemilu saat Peringatan 10 tahun berakhirnya apartheid, Gardner bertemu dengan Nelson Mandela untuk membicarakan kemungkinan investasi di Afrika Selatan dan pasar-pasar baru seperti ditunjukkan dalam otobiografinya pada 2006. Gardner dilaporkan mengembangkan usaha investasi dengan Afrika Selatan yang akan menciptakan ratusan pekerjaan bagi jutaan orang. Gardner menolak mengungkapkan rincian proyeknya sambil mengutip undang-undang sekuritas.

Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

Seorang yang Dermawan

Belajar dari perjalanan hidupnya yang lumayan rumit dan penuh liku, dia terinspirasi memberikan motivasi kepada orang lain, agar mereka belajar dari kisah hidupnya. Dia selalu menekankan tentang kunci pemberdayaan diri, mengalahkan ketidakmungkinan dan memecahkan rutinitas. Gardner juga seorang dermawan yang murah hati dan berdedikasi ke banyak organisasi organisasi amal. 
Gardner mengulurkan tangannya ke banyak program untuk melayani orang tanpa rumah, memberikan waktunya, pertolongan, dan dana. Terbanyak diantaranya adalah gereja Glide United Methodist di San Francisco dan The Cara Program di Chicago. Di Glide, Gardner menolong pengumpulan dana, menyumbangkan pakaian pakaian dan sepatu sepatu, dan berbicara pada pelayanan pelayanan dan acara acara khusus.

Dia juga terlibat di sebuah rencana untuk me revitalisasi dan menyediakan perumahan di sekitar Glide. Di Cara, tempat untuk membantu tuna wisma dan di tempat dengan populasi beresiko tinggi seperti Chicago dengan program program pelatihan bekerja dan penempatan, Gardner berbicara di sesi konseling, membantu dengan penempatan pekerjaan, dan juga menyumbangkan pakaian dan sepatu sepatu.

Gardner melayani sebagai anggota dewan dari National Fatherfood, dimana misinya adalah untuk memajukan kesejahteraan anak anak dengan meningkatkan proporsi anak anak yang sedang tumbuh dengan ayah yang terlibat, bertanggung jawab dan ayah yang berkomitmen. Gardner adalah salah satu dari grup yang menerima penghargaan sebagai Father of the Year Award pada tahun 2002.

Gardner terutama sekali berkomitment kepada organisasi pendidikan. Dia melayani sebagai anggota dewan dari National Education Foundation dan memberikan sponsor dua penghargaan tahunan: the National Education Association’s National Educational Support Personnel Award and the American Federation of Teachers’ Paraprofessionals and School-Related Personnel (PSRP) Award. Dia juga ikut terlibat dengan serikat guru di Chicago, memberikan sponsor untuk aktivitas aktivitas dan piknik atau study tour untuk sekolah publik bagi anak anak di Chicago.

Selain dari penghargaan tahunan sebagai ayah teladan, Gardner juga diberikan penghargaan oleh komisi penyerangan terhadap wanita di Los Angeles(LACAAW) dengan penghargaan 25th Annual Humanitarian Award, dan oleh Continental Africa Chamber of Commerce with the 2006 Friends of Africa Award.

Cerita yang mengagumkan dari perjuangan Chris Gardner, kepercayaan, jiwa kewirausahaan dan devosi seorang ayah telah melontarkan ia jauh dari kemasyuran yang ia temukan di Wall Street (tempat bursa efek seperti BEJ).

Dia telah di wawancarai di acara “Evening News with Dan Rather,” “20/20,” “Oprah,” “Today Show,” “The View,” “Entertainment Tonight,” CNN, CNBC, Fox News Channel dan juga menjadi subjek berita sebagai profil di banyak surat kabar dan majalah termasuk People, USA Today, Associated Press, New York Times, Fortune, Jet, Reader’s Digest, Trader Monthly, Chicago Tribune, San Francisco Chronicle, The New York Post dan the Milwaukee Journal Sentinel. Dia juga menjadi pembicara motivasi yang sering dicari. ins

Cara suskes Chris Gardner
  1. Lakukan apa yang Anda sukai, meski yang lain tidak menyetujuinya. Sering kali kita mendengar pendapat orang lain yang akhirnya malah membuat kita down. Bukannya semangat berbisnis, kita malah jadi takut kalau rencana kita tidak disetujui orang lain. Well, ANDA-lah yang akan berbisnis, dan kalau orang lain tidak suka dengan rencana Anda, itu masalah mereka, bukan Anda.
  2. Lakukan hal yang Anda sukai, namun tetaplah realistis. Gardner bilang, hal tersulit yang pernah orang tanyakan ke saya adalah "Pilih mana:  hal yang kita cintai atau hal yang praktikal". Hal yang praktikal maksudnya hal yang secara gampang menghasilkan uang. "Saya tidak bisa menjawabnya. Sebab saya harus melakukannya.Saya sangat mencintai karir saya di financial services, tapi saya juga mencintai kegiatan menafkahi anak saya."
  3. Bangunlah bisnis Anda sendiri, janganberpikir satu-satunya cara sukses adalah dengan bekerja di perusahaan.
  4. Buat perencanaan. Jangan hanya bergantung pada keyakinan saja.Buatlah perencanaan yang jelas, menarik & konsisten. Yang paling penting: Anda harus berkomitmen pada usaha Anda. Sering sekali orang hanya semangat pada awalnya saja.
  5. Gunakan kelebihan Anda. Apakah Anda pintar meyakinkan orang, berbakat dengan hal-hal teknikal, semua bakat dan keahlian itu bisa dengan gampang Anda gunakan untuk banyak bidang pekerjaan dan aneka industri.
  6. Mandirilah, dan jaga diri Anda sendiri. Jangan mengharapkan bantuan dari saudara, teman, atau siapapun juga.Dalam berbisnis, hal-hal buruk bisa terjadi, meski begitu, Anda harus cukup kuat untuk mengangkat diri Anda sendiri.
  7. Ingatlah mana yang benar-benar penting. Di Amerika banyak orang bekerja untuk mendapatkan harta benda, kata Gardner. Sekarang, semua orang harusnya focus pada hal yang benar-benar penting:  keluarga dan teman-teman.
  8. Sekecil dan selambat apapun berkembangnya usaha Anda, tetap saja itu perkembangan yang berarti. Selama usaha Anda ada kemajuan, meski kecil, semua itu berarti.Jangan gampang menyerah dan patah semangat!

http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/01/biografi-chris-gardner.html
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d7d4ba0c740bf7ebc704d8be939bcd57&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5

Senin, 21 Mei 2012

Berawal dari Susahnya Cari Makan, Kini Rony Jadi Miliarder

Mementingkan motivasi ketimbang mewujudkan ambisi membuat Rony Suhartono akhirnya sukses berbisnis kaus hingga sekarang. Saat ini, usahanya yang menggunakan bendera Radja Kaos menghasilkan omzet hingga Rp 1 miliar sebulan.

Di tengah sorotan publik terhadap pelaksanaan pemilihan kepala daerah atau lazim disebut pemilukada yang memboroskan bujet, ada pengusaha yang justru memetik untung dari momentum ini. Ia adalah Rony Suhartono. Sebab, semakin banyak pemilukada digelar, pesanan kaus ke CV Radja Kaos miliknya bakal semakin banyak.

Biasanya, dalam sebulan, Ronny hanya mengerjakan 200.000 potong kaus. Tapi, di saat ada pemilukada, pesanan bisa melonjak sampai 500.000 potong kaus sebulan. Dari pesanan itu, omzet yang ia raup bisa mencapai Rp 2 miliar.

Pencapaian bisnis Rony saat ini tidak datang dalam semalam. Sekitar 25 tahun lalu, ia hanyalah seorang anak ingusan dari sebuah desa kecil di Tuban, Jawa Timur. Orangtuanya berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Sejak kecil, sulung dari tiga bersaudara ini hidup pas-pasan.

Beruntung, di kelas, Rony tergolong anak pintar. Selain selalu meraih ranking satu, ia juga siswa teladan. Prestasi itu membuatnya berhasil masuk ke SMP dan SMA terbaik di Tuban. Selain selalu menjadi Ketua OSIS, ia juga aktif dalam organisasi keagamaan di sekolah.

Selulus SMA, sadar kondisi keuangan keluarganya pas-pasan, Rony tak berani bermimpi meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Namun, salah seorang temannya menantangnya ikut tes Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Semua biaya tes ditanggung. Rony setuju. Ia memilih Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia (UI).

Dasar otak encer, pilihan Rony masuk UI ternyata tembus. Bukannya senang, sang ayah malah pusing tujuh keliling. “Kami tidak punya uang untuk mendaftar ulang,” ujar Rony. Alhasil, sang ayah menjual dua kambing peliharaan untuk biaya anaknya pergi ke Jakarta. Hasil penjualan kambing senilai Rp 600.000 itu juga menjadi modal awal Rony hidup di Ibukota pada tahun 1994.

Meski sudah tiba di Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta, Rony butuh tiga hari untuk menemukan kampus UI di Salemba. Repotnya, setelah menemukan kampus itu, ada pengumuman bahwa pendaftaran ulang mahasiswa baru dilakukan di kampus UI Depok. Rony terpaksa menempuh perjalanan Salemba-Depok dengan berjalan kaki.

Belum habis rasa lelahnya, Rony dikagetkan dengan biaya daftar ulang yang mencapai Rp 800.000. Padahal, uang bekal dari kampung sudah terpakai sebagian. Kembali ke Tuban juga butuh waktu dan biaya. Alhasil, ia terancam gagal mendaftar ulang. Akhirnya, ia nekat menghadap Rektor UI untuk minta penangguhan pembayaran.

Menjalani masa kuliah juga bukan hal mudah bagi Rony. Tak sanggup bayar uang sewa pondok, pria kelahiran 17 Februari 1975 ini terpaksa tinggal di masjid kampus UI. “Saya biasa tidak pegang uang berbulan-bulan,” kenangnya. Ia juga tidak bisa mengandalkan kiriman duit dari orangtuanya.
Rony lantas mencari cara agar bisa tetap makan. Setiap malam, ia membantu pedagang pecel lele supaya mendapatkan seporsi makan malam. Kalau sedang sepi, ia mencabuti singkong liar di hutan UI untuk dimakan selama berbulan-bulan.


Proyek dari rektor

Untuk menutup biaya kuliah, Rony mesti putar otak. Sambil berkuliah, ia berjualan teh botol di kampus. Tak hanya itu, ia pun mencari objekan dengan menjual diktat-diktat catatan kuliah. Di malam hari, ia juga kerap berjualan buah di Pasar Minggu. Uang hasil kerja kerasnya itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Lumayan bisa buat bayar SPP kuliah,” kisahnya.

Di tahun 1997, ketika genderang reformasi ditabuh, laiknya mahasiswa lain, Rony ikut berjuang dalam gerakan mahasiswa untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto. Saking semangatnya jadi aktivis, Rony yang juga menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) di UI justru malah lama lulus.

Saking lamanya kuliah, sang rektor sampai menawarkan proyek penyediaan konveksi perlengkapan mahasiswa baru asal Rony bergelar sarjana. Diberi kerjaan, ia semangat. Ia lantas membangun jaringan bisnis secara perlahan. Rony menghubungi pedagang-pedagang kaus di Jembatan Lima, Jakarta Barat yang ia kenal.

Di tahun 2004, bisnis konveksi Rony mulai berkembang. Permintaan kaus berdatangan, terutama dari perusahaan-perusahaan yang akan menggelar phttp://www.blogger.com/img/blank.gifrogram promosi dan acara gathering kantor.

Tahun 2006, ketika Rony sudah mulai menapaki karier di bidang politik, pasar bisnis kausnya ikut bergeser. Ia lebih banyak melayani pembuatan kaus untuk partai politik. Pesanan partai untuk suksesi gubernur serta bupati atau walikota di pemilukada mendongkrak permintaan pesanan kaus.

Lewat bendera CV Radja Kaos, bisnis Rony kian menggurita. Kini, Radja Kaos tengah mempersiapkan peranti pemilihan pengurus daerah Partai Demokrat. Radja Kaos tak hanya membuat kaus, tapi juga poster dan spanduk. “Semua keperluan suksesi di partai kami siapkan,” kata Rony.

sumber

Jumat, 06 April 2012

Juragan Belia Punya Puluhan Karyawan

Berasal dari keluarga besar yang banyak meniti karir di dunia kemiliteran, Victor diharapkan mengikuti jejak ayahnya yang bekerja di kepolisian.

“Orangtua saya sangat berharap saya masuk di kepolisian,” ujar Giovani. Namun, bukannya Giovanni tak patuh pada orangtuanya. Ia mengaku tak terlalu suka bekerja di kepolisian atau dunia militer.

Gio lebih suka melakukan bisnis sehingga ia bisa lebih bebas bergerak kemana, tidak seperti di militer yang harus patuh pada hierarki.

Ia pun memilih bisnis makanan dan yang pertama kali dikembangkan adalah bisnis bakso. Namun, Giovani merasa tak cepat puas dengan memiliki beberapa gerai bakso di kotanya di Malang.

Ia pun menjajal bisnis aneka minuman cepat saji. “Saya melihat bisnis masih sangat besar dan menguntungkan,” ujar Giovani.

Mulai dari bisnis minuman berbahan dasar susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Pilihan Gio pun jatuh pada minuman teh yogurt.

Pilihan ini bukannya tanpa cerita. Pelajar berusia 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” ujar pemilik merek Teh Kempot ini.

Giovani menceritakan, ide penamaan produknya juga punya kiah tersendiri. Ia mengatakan, penamaan ini berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan. “Kalau teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot,” ujar Giovani. Begitu kira-kira harapan Giovani menjadikan teh yoghurt buatannya paling digemari.

Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki sekarang ini sudah memiliki lebih dari 10 gerai yang dikelola sendiri. Selain itu juga ada lebih 17 gerai yang dikelola oleh mitranya. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.

“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

Giovani memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya sudah ada lima yang semuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana menambah 5 outlet.

Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama.



Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum. “Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.

Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.

Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.

“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Giovani.

Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini.

Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya.n diolah, faz


Nama: Victor Giovan Raihan

Orangtua: Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

Senin, 09 Januari 2012

"KULIAH DI AMERIKA, CINTA LAURA AKAN TINGGALKAN KARIER??"


* Cinta Laura.

Menurut Cinta, aplikasi ke delapan universitas ternama di Amerika harus dia ajukan segera, karena tenggat waktunya jatuh pada bulan September hingga November.
“Aku tiga minggu di Amerika. Pertama ke California dulu untuk lihat Stanford, UCLA, Santa Clara dan University of California Berkeley. Dari situ ke Columbia University di New York, kemudian ke Princeton University di New Jersey. Selanjutnya aku enggak tahu lagi kemana, karena jadwalnya diatur Papi,” cerita Cinta.

“Aku memang harus apply banyak. Enggak ada tujuan utama. Jaman sekarang susah masuk Universitas yang bagus, karena banyak orang pintar. Aku enggak bisa terlalu percaya diri juga. Jadi kalau enggak diterima di satu Universitas, ada cadangannya,” lanjut Cinta.

Dari Amerika, Cinta mampir sebentar ke tanah leluhurnya di Jerman selama sepuluh hari. Cinta ingin mengobati rasa rindu neneknya. “Aku setahun sekali pulang ke Jerman. Tapi selalu kangen ingin ke sana,” tukasnya.

“Aku enggak mau terlalu sibuk dengan dunia entertainment. Seminggu sekali saja, karena banyak banget yang harus aku kerjakan. Dari bikin college application sampai ngerjain PR sekolah.”

“Aku kuliah tujuh tahun. Rencananya empat tahun undergraduate degree (setingkat S1) di psikologi, tiga tahun lagi master degree belum tahu apa. Nilai psikologi aku di sekolah selalu A+, sampai dapat penghargaan di sekolah,” ungkap Cinta bersemangat.

“Tahun pertama aku akan tinggal di asrama sekolah, Itu wajib. Makan sudah disiapkan sehari tiga kali. Jadi yang harus aku kerjakan, ya nyuci baju dan bersihin kamar sendiri,” sambung Cinta yang mengaku senang bisa hidup mandiri.

* Herdiana Kiehl (Mami Cinta), tidak cemas dengan keamanan di Asrama.

“Daripada di luar, lebih aman di sekolah. Saya ingin Cinta lebih mandiri karena sekarang terlalu bergantung pada Saya,” kata Herdiana yang selalu setia menemani Cinta. “Tapi Saya dan suami tetap tinggal di Indonesia. Sesekali di Bali juga,” akunya.

Cinta boleh saja menetap di sana, tapi dia tidak mungkin tidak balik ke tanah air yang telah melambungkan namanya.

“Of course aku bakal ke Indonesia setahun sekali untuk liburan. Tapi untuk tinggal di sini lagi (untuk waktu lama), kayaknya sih enggak. Aku belum bisa memastikan, karena aku juga enggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” bilang dia.

Sayang sekali jika Cinta tidak kembali lagi ke Indonesia. Terlebih kariernya dua tahun terakhir sedang berada di puncak. Tapi kalau itu mungkin yang terbaik buat Cinta, ya mau bilang apa. Cinta mengaku ingin melakukan sesuatu yang lebih besar lagi buat tanah kelahiran ibunya.

“Buat aku dunia entertainment ini hobi, bukan impian aku. Aku pasti akan kangen sama fans aku. Tapi aku suka coba yang baru-baru, kata Cinta.

“Cita-cita dia ingin seperti Margareth Thatcher, Hillary Clinton, dan Condoleezza Rice. Cantik, tapi berisi (otaknya). Siapa tahu nanti setelah lulus, bisa jadi Sekjen PBB atau kayak Sri Mulyani di Bank Dunia,” harap Herdiana menyanjung tinggi putrinya. Amin.

"CINTA LAURA DI TERIMA DI 7 UNIVERSITAS DI AMERIKA"

Cinta Laura sudah di terima di 7 Universitas di Amerika. Di antaranya adalah COLUMBIA UNIVERSITY NEW YORK (Top 5 University in the World), UNIVERSITY OF CALIFORNIA BERKELEY (Top 10 University in the World), IVY LEAGUE (Sekolah yang sangat berkwalitas dan bergengsi di Amerika). Tapi kemungkinan besar Cinta Laura akan memilih Columbia University di New York karena Top 5 University in the World.

Cinta Laura bakal mewakili Indonesia di Negeri Paman Sam tersebut. Sambil menunggu keberangkatannya sekitar dua bulan lagi, Cinta Laura pun mengungkapkan rencana-rencana di masa depannya setelah diterima di universitas tersebut.

"Don't worry, aku akan mewakili nama Indonesia di sana. Mungkin setelah Bachelor Degrees dan pendidikan selanjutnya, S2 aku maunya di Harvard, mungkin bisa jadi Ambassador PBB, kerja di World Bank atau jadi Minister Ekonomi Indonesia. Pendidikan sangat penting untuk mendapatkan sesuatu yang baik juga,"

Di Amerika ia bakal tinggal di Asrama selama setahun. Demikian, Cinta mengatakan bahwa tidak ada persiapan khusus menjelang keberangkatannya ini.

Aku akan tinggal di Asrama sekolah 1 tahun. Itu lebih enak, ketemu teman-teman baru. 4 tahun di sana. Ngga tinggal sama Mami dan Papi ngga bikin aku takut. Ini jadi pengalaman yang asyik.

Cinta Laura pun mengatakan bahwa ini saatnya baginya untuk bisa Independent dan tidak tergantung kepada keluarga lagi. "Udah waktunya buat aku Independent, biarpun aku sangat sayang sama Papi Mami. Rencananya akan ngambil 2 jurusan, Psychology and Political Science.

"CINTA LAURA SIAP HIDUP MANDIRI"

Cinta akan kuliah 7 tahun di Amerika dan setahun sekali akan pulang ke Indonesia untuk mengunjungi kedua orang tuanya.
Meski terbilang manja, Cinta siap tinggal berjauhan dengan Mami-Papinya. Dia mengaku bisa melakukan sejumlah aktivitas rumah tangga seperti mencuci piring, membersihkan kamar, mencuci baju dan menyeterika baju sehingga tidak perlu khawatir tinggal di Asrama.

Aku justru pengen banget (tinggal di asrama), dari dulu aku sudah bisa itu (melakukan aktivitas rumah tangga) jadi ngga perlu belajar, kata Cinta.

Rabu, 14 Desember 2011

Jessica Cox, Pilot Pertama Tanpa Tangan

”Jangan Pernah Berkata Tidak Bisa”

Jessica Cox (27) memang terlahir tanpa kedua tangan. Namun istimewanya, Jessica tidak pernah menyesal mengapa ia terlahir seperti itu. Dia selalu tersenyum dan percaya diri. Bahkan, kepercayaan diri itu sudah terlihat sejak ia masih balita. Karenanya Jessica lebih mencurahkan energinya untuk berlatih menulis, menyisir rambut, mengetik, mencuci piring, menggunakan lensa kontak dan sebagainya dengan kaki, ketimbang menyesali diri.

Itu adalah sebuah keputusan. Bahwa penerimaan diri secara utuh memberi kita kebebasan untuk memilih kehidupan seperti apa yang hendak kita jalani,” tegas Jessica.

Namun, di balik kepercayaan diri itu, Jessica juga sempat berpikir mengapa dia terlahir tanpa tangan. ”Yah, gimana juga saya sempat berpikir mengapa saya terlahir seperti ini. Tapi, langsung deh pikiran itu saya tepis, Saya hanya berpikir kalau saya tidak terlahir seperti ini, mungkin saya tidak akan sekuat ini,” kata Jessica.

Jessica menambahkan bahwa ketika seseorang diberi kelemahan pada satu sisi, berarti ada kekuatan lain di sisi lain. ”Artinya ketika seseorang terlihat sempurna, berarti ia memiliki kelemahan yang kita tidak tahu. Bisa jadi kuat di fisik tapi lemah di mental,” papar gadis asal Tucson, Arizona ini.

Kekuatan mental itulah yang membawa anak kedua dari tiga bersaudara ini berprestasi di beberapa bidang. Seperti bela diri, akademik, penerbangan dan sebagainya.

Tidak Diketahui


Tapi apa sebenarnya yang menyebabkan Jessica terlahir tanpa tangan? Sejujurnya tidak pernah diketahui dengan pasti apa penyebabnya. Bahkan oleh dokter sekali pun.

Namun yang pasti sejak masih bayi kedua kaki Jessica seperti sudah tercetak untuk menggantikan fungsi tangan. Ketika kanak-kanak, perkembangan kemampuan kakinya sangat luar biasa.

Dia belajar makan dan menulis dengan kakinya. Atau berlatih tap dance dengan mantap. Jadi tidak heran jika beragam ketrampilan sudah Jessica kuasai sejak masih balita. Umur tiga tahun, Jessica masuk ke kelas gimnastik. Umur 6 tahun kakak dari Jackie ini ikut kelas berenang dan ikut kelas tari.

Empat tahun kemudian, Jessica mulai ikut kelas Tae Kwon-Do untuk bekal pertahanan dirinya dan itu berlanjut hingga dia meraih dua sabuk hitam. Sabuk hitam pertama diraih ketika berumur 14 tahun di Federasi Tae Kwon-Do Internasional. Kemudian dia bergabung di Asosiasi Tae Kwon-Do Amerika saat kuliah dan meraih sabuk hitam ke dua.

Kepandaian itu selain karena kerja keras Jessica juga berkat dukungan dari orangtuanya, pasangan William dan Inez. William dan Inez tidak sekali pun memperlakukan putri keduanya ini dengan berlebihan.

Sejak kelahiran Jessica, William dan Inez seperti sudah tercetak untuk memperlakukan putrinya ini dengan ’biasa’. ”Saya masih ingat, ketika kecil, ibu saya meletakkan mainan di kaki saya. Kemudian, spontan saya memainkan mainan itu dengan kaki seperti halnya anak-anak lain melakukannya dengan tangan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Inez yang berprofesi sebagai perawat itu juga mengajak Jessica untuk selalu aktif. Apapun dicobanya demi mendapatkan pengalaman baru.

”Karenanya saya bersyukur memiliki orangtua seperti mereka yang selalu mengajarkan banyak hal,” tutur gadis berkacamata ini.

Selain itu, William yang pensiunan guru ini juga mengajarkan untuk komitmen dengan sesuatu sampai tuntas.

”Artinya dalam mengerjakan sesuatu jangan setengah-setengah. Ketika kita memutuskan untuk melakukan satu hal,selesaikan hingga akhir, jangan pernah berhenti di tengah jalan. Itulah pelajaran yang sampai sekarang mengendap di hati dan pikiran saya,” ujarnya.


Ikut Kelas Penerbangan

Sayangnya, beberapa ketrampilan yang dia kuasai itu ternyata tidak mengubah cita-citanya ketika kecil. ”Ketika SD bercita-cita sebagai Superwoman yang bisa terbang. Dan waktu itu terbang identik dengan merentangkan tangan,” kata Jessica.

Sayang, karena tidak memiliki tangan, Jessica tidak bisa melakukan hal itu. Tapi ternyata imajinasi itu terus menghantuinya hingga dewasa. Meski waktu itu ia tidak bisa membayangkan bagaimana cara mewujudkannya.

Hingga akhirnya pada tahun 2005, Jessica ikut pertemuan penerbangan dan bertemu Robin Stoddard dari Wright Flight, organisasi penerbangan nirlaba yang berlokasi di Tucson.

Robin mendekati dan menawarkan apakah Jessica mau menerbangkan pesawat. Waktu itu Jessica sempat bingung.


”Di satu sisi saya takut untuk menerbangkan pesawat, tapi di sisi lain keinginan untuk bisa mengemudikan pesawat terus terngiang di pikiran saya. Akhirnya saya menerima tawaran itu, Robin memberi kesempatan untuk pelatihan beberapa jam dan itu membuat saya ketagihan,” katanya.

Jessica pun mengikuti pelatihan menerbangkan pesawat sport selama 74 jam. Hingga akhirnya ia berkesempatan terbang solo ke San Manuel.

”Wah, itu pengalaman luar biasa yang saya alami. Cita-cita saya sebagai Superwoman pun terkabul,” ujarnya.

Setelah tiga tahun berlatih baik secara teori maupun praktik, Jessica pun mendapatkan sertifikat pilot dari Federal Aviation Administration, bagian Departemen Transportasi AS. Yang pasti itu bukan perkara mudah.


”Pesawat adalah sesuatu yang tidak bisa kita modifikasi sesuka hati. Ketika kita ingin belajar menerbangkannya, kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi pesawat itu,” papar Jessica.

Ia ingat apa saja kesulitan yang harus dihadapi saat kali pertama masuk pesawat sport itu. ”Tantangan pertama saat masuk pesawat adalah bagaimana mengancingkan sabuk pengaman. Butuh strategi khusus untuk menggunakannya,” katanya mengenang masa beberapa tahun lalu.

Namun, tantangan itu bukanlah yang terakhir. Masih banyak tantangan lain yang nyaris membuatnya menyerah. Tapi lagi-lagi dia teringat nasihat ayahnya. Dia harus menyelesaikan setiap pekerjaan hingga tuntas.

”Saya butuh waktu tiga tahun untuk melakukan sesuatu yang mungkin orang normal lain lakukan selama sekitar enam bulan,” katanya.

Namun hasilnya memang menggembirakan. Jessica berhasil melampaui ketiga hal itu. ”Banyak orang bilang itu tidak mungkin. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Semuanya mungkin, asal kita memang menetapkan dalam hati bahwa semua itu mungkin,” tegasnya.

Kata tidak mungkin memang tidak ada dalam kamus Jessica. ”Jangan pernah berkata tidak bisa atau tidak mungkin. Karena itu semacam doa buat kita. Ketika kita bilang mungkin, berarti ada semangat untuk mengalahkan keadaan tidak menyenangkan hingga akhirnya menjadi mungkin,” tambahnya.

Source

Senin, 12 Desember 2011

H. Hasanain Juaini : Tiada Hari Tanpa Menanam

Jakarta - Mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, itulah yang dilakukannya. Ia bosan dengan diskusi-diskusi, dengan teori-teori yang mentok pada wacana. Ia pun memutuskan berkarya nyata. Hasilnya, puluhan hektare tanah yang enam tahun lalu tandus, kini menjadi hutan nan menghijau.

“Orang jangan sampai dilarang menebang pohon, karena manusia hidup pada dasarnya kan butuh pohon,” tutur Tuan Guru Hasanain (46) kepada SH via telepon, beberapa waktu lalu. Menurutnya, orang boleh menebang pohon asalkan mau menanam lebih banyak daripada jumlah yang ditebangnya. “Kalau menebang satu, ya tanam 100, lanjut Hasanain.

Perambahan hutan dan penebangan pohon yang berlangsung terus-menerus di tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Barat (NTB), memang telah menyebabkan ratusan hektare lahan menjadi gersang. Sumber-sumber mata air menghilang, sektor pertanian dan peternakan tidak optimal, dan warga makin hari kian dicekam berbagai kesulitan hidup.

Pantang Setengah-setengah

Melihat kondisi ini, Hasanain yang mengaku hobi membaca dan bekerja keras ini gerah. Ia pun mengajak warga menanami lagi lahan-lahan tandus itu. Seperti dugaannya, warga Lombok awalnya tak mudah diyakinkan. Mereka harus diberi contoh dulu.

Bagi warga, gagasannya justru dianggap tidak masuk akal karena tanah yang akan mereka garap umumnya berpasir, tanpa hara, dengan keberadaan sumber air yang juga langka. Walau begitu, Hasanain tetap bertekad mewujudkan impiannya itu.

Alih-alih membantu, pada awalnya warga justru menonton saja saat tuan guru sebutan untuk kiai ini mulai bekerja keras menanami sebidang lahan 23 hektare di pinggiran tebing.

Pada tahun 2005 itu, pada awal masa penanaman, tragisnya Hasanain langsung dihadapkan pada kemarau panjang. Tetapi anak kedelapan dari 14 bersaudara ini pantang mundur. Berbekal sebuah ember, kawat, katrol, dan tali nilon setiap hari ia menimba air dari mata air yang letaknya persis 80 meter di bawah tebing.

“Gila memang, kami menimba air lebih dari seribu kali dalam sehari untuk menyirami 4.000 mahoni yang baru kami tanam. Sementara warga sekitar hanya menonton dengan keheranan, karena tanah berpasir itu sangat menyerap air dan pekerjaan kami tampak sia-sia,tutur Yusuf, sekretaris pribadi Hasanain kepada SH via telepon, Senin (7/2).

Terkait tindakan gila ini, beberapa orang dekat Hasanain berkomentar senada. “Tuan Guru selalu menekankan bahwa kalau melakukan apa pun jangan setengah-setengah, harus sampai ada hasilnya,” ujar sopir pribadinya, Rinamin, kepada SH.

Kegigihan Hasanain menunjukkan hasil. Pada tahun pertama, mahoni tumbuh. Bahkan penduduk yang biasa mengambil air ke bawah dengan berjalan memutari sisi tebing selama setengah jam, kini mulai menumpang menimba air melalui ember kecil Hasanain.

Pada tahun itu juga, Hasanain mulai membagikan 360.000 bibit pohon kepada warga. Tahun-tahun berikutnya, berbarengan dengan perbaikan sistem penyaluran air ke lahan-lahan, jutaan bibit dibagikannya lagi hingga ke berbagai penjuru NTB.

Tahun 2011 ini, 500-an pesantren setempat telah terlibat dalam gerakan pembibitan dan penanaman, dan puluhan pusat pembibitan pun telah tersebar di berbagai penjuru NTB. “Sekarang warga sudah mau menanam bahkan mengambil bibit sendiri ke pusat-pusat pembibitan. Kalau tahun-tahun awal, bibit masih kami antar ke rumah mereka, dan mereka pun harus kami bayar agar mau menanam,” kenang Hasanain sambil tertawa.

Selalu Berinovasi

Enam tahun telah berlalu. Puluhan hektare area yang dulu gersang kini ditumbuhi berbagai tanaman kayu setinggi sekitar 3 meter. Mahoni, jati, jati putih, sengon, ketapang, kenari, dan berbagai tanaman kayu kini pun banyak tumbuh di lahan-lahan warga.

Belasan sumber air yang dulu punah kini juga bermunculan lagi, dan beberapa mata air debitnya membesar. Sistem tumpang sari yang dikembangkan kemudian juga memungkinkan masyarakat mendapat hasil dari tanaman-tanaman jangka pendek, bahkan mereka bisa berternak.

Kendati upayanya sudah menunjukkan hasil, Hasanain masih terus menanam pohon. Ia bahkan masih sering mencangkul bersama santrinya hingga tengah malam. “Kami menanam pohon setiap hari. Tiada hari tanpa menanam. Kalau belum selesai akan terus kami lanjutkan, walau sampai malam hari. Tak peduli penanaman mulai dari pagi, siang, atau sore hari,tutur Yusuf.

Ayah empat anak ini memang tak bisa lepas dari berbagai inovasi. Tahun 2003 lelaki yang mengidolakan Thomas Alva Edison ini mendapat penghargaan sebagai pembaharu sosial berkat sepak terjangnya mengembangkan sistem pesantren yang menjunjung nilai demokrasi, pluralisme, dan kesetaraan gender.

Ia juga dikenal berpikir maju karena berhasil melatih santrinya berpikir kritis dan menghargai keberagaman. Saat ini, selain mengembangkan pendidikan akselerasi khas Haramain, Hasanain juga berupaya agar badan amal dan zakat bisa berkarya mulai dari tataran desa-desa.

Soal Mentalitas

Terkait lingkungan, menurut Hasanain, laju kerusakannya selalu lebih cepat daripada perbaikannya. Masih ada ratusan ribu hektare lahan di NTB dalam kondisi kritis. Ia berharap pemerintah lebih gesit dan gigih melakukan perubahan. “Edison terus mengulangi percobaannya sekalipun ribuan kali gagal, sampai ia menemukan listrik. Mentalitas seperti itu yang saya suka,ungkapnya.

“Dengan kerja keras, kita bisa mengubah lingkungan menjadi lebih baik, tidak ada yang mustahil untuk dilakukan. Misi saya: baik, benar, indah, dan bermanfaat. Artinya, mari kita berbuat tidak hanya yang baik dan benar, tetapi juga harus yang indah dan bermanfaat,” pungkasnya.

Source

Sabtu, 26 November 2011

Kisah Nyata, Orang Miskin Yang Kini Menjadi Orang Terkaya Di Indonesia

EKA TJIPTA WIJAYA: “SAYA BELAJAR DI PINGGIR JALAN

Bersama ibu, saya ke Makassar tahun 1932 pada usia sembilan tahun. Kami berlayar tujuh hari tujuh malam. Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek. Hendak makan masakan enak, tak mampu. Ada uang lima dollar, tetapi tak bisa dibelanjakan, karena untuk ke Indonesia saja kami masih berutang pada rentenir, 150 dollar.

Tiba di Makassar, Eka kecil masih dengan nama Oei Ek Tjhong segera membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang terbayar, toko ayahnya maju. Eka pun minta Sekolah. Tapi Eka menolak duduk di kelas satu.

Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan. Ia keliling kota Makassar, menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat 1 usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya.

Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.

Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air 2 panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya.

Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja.

Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang.

Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 sampai 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat 3
sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung.

Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.

Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan.

Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar.
Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.

Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi.

Usahanya
baru benar-benar melesat dan tak jatuh-jatuh setelah Orde Baru, era yang menurut Eka, memberi kesejukkan era usaha. Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka usaha yang tadinya tak ada apa-apanya menjadi ada apa-apanya. Tjiwi Kimia, yang dibangun 1976, dan berproduksi 10.000 ton kertas (1978) dipacu menjadi 600.000 ton sekarang ini. Tahun 1980-1981 ia membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula. Tahun 1982, ia membeli Bank Internasional Indonesia. Awalnya BII hanya dua cabang dengan aset Rp. 13 milyar. Setelah dipegang dua belas tahun, BII kini memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset Rp. 9,2 trilyun.

PT Indah Kiat juga dibeli. Produksi awal (1984) hanya 50.000 ton per tahun. Sepuluh tahun kemudian produksi Indah Kiat menjadi 700.000 ton pulp per tahun, dan 650.000 ton kertas per tahun. Tak sampai di bisnis perbankan, kertas, minyak, Eka juga merancah bisnis real estate. Ia bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy ia bangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador.

Saya Sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik, katanya mengomentari semua suksesnya kini.

Kecuali itu, hematlah, tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210, Waahhh, itu cilaka betul, katanya.

Setelah 58 tahun berbisnis dan bergelar konglomerat, Eka mengatakan, dia pribadi sebenarnya sangat miskin. Tiap memikirkan utang berikut bunganya yang demikian besar, saya tak berani menggunakan uang sembarangan. Ingin rehat susah, sebab waktu terkuras untuk bisnis. Terasa benar tak ada waktu menggunakan uang pribadi, Eka mengeluh. Hendak makan makanan enak, lanjutya, sulit benar karena makanan enak rata-rata berkolesterol tinggi.
Inilah ironi, kata Eka.
Source

Joko Susanto, Si Miliarder Baru

Namanya mencuat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Joko Susanto, disebut majalah Forbes di urutan 25 dari 40 orang terkaya di Indonesia yang dilansir Rabu, 23 November lalu.

Djoko Susanto, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan retail Alfamart, berhasil mengungguli kekayaan orang-orang terkenal Indonesia, seperti Aburizal Bakrie (peringkat 30) dan Ciputra (peringkat 27). Kekayaannya yang dikumpulkan berjumlah US$ 1,040 miliar (Rp 9,36 triliun).

Semua bermula di tahun 1967, ketika Djoko Susanto masih berusia 17 tahun. Ia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Djoko benar, bisnis dia dengan cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart (yang kemudian dikenal sebagai Alfamart) pada 1994.


"Saya pikir penamaan Sampoerna Mart kurang menjual, kemudian saya menggunakan Alfa, sebuah merek yang lebih dikenal dan teruji," ujar Djoko, seperti dikutip majalah Forbes, Kamis, 24 November 2011.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2005, ketika Sampoerna menjual bisnis tembakau--beserta anak perusahaannya (termasuk 70 persen bagian perusahaan Sampoerna yang ada di Alfamart)--kepada Philip Morris International dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Philip Morris, yang tidak tertarik bisnis retail, kemudian menjual saham Alfamart kepada Djoko dan investor ekuitas swasta, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar sehingga membuatnya memiliki 65 persen perusahaan.

Saham itu kemudian diperdagangkan dan menghasilkan dua kali lipat pada 12 bulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Djoko termasuk ke dalam jajaran miliuner dunia. Dia membuat debutnya pada urutan ke-25 dalam jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 1,04 miliar.
Source : disini

Ahmad Hamami, Pengusaha Besar yang memulai usaha dengan jual Es Lilin

Keberuntungan memang tengah hinggap di keluarga Hamami saat ini. Berbisnis alat berat sejak dekade 1970-an, keluarga ini masuk dalam daftar 10 orang terkaya Indonesia versi majalah ekonomi Forbes, dengan taksiran aset US$ 2,2 miliar.

Adalah Ahmad Hamami, sang kepala keluarga, yang menjadi nakhoda utama bisnis ini. Sebelum menjadi pengusaha, pria yang kini berusia 81 tahun itu berkarier sebagai penerbang di jajaran TNI Angkatan Laut.

Perjalanannya sebagai prajurit cukup cerah. Hamami muda bahkan sempat mendapat pendidikan pilot di Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) dan menyandang predikat kolonel termuda pada akhir 1960.

Sayang, karier militernya lantas terhenti. Seperti dikutip dari Forbes.com, Hamami pensiun dini lantaran muak dengan wabah korupsi yang ada di tempat kerjanya saat itu. Setelah pensiun, Hamami memulai bisnis kecil-kecilan.

Awalnya, ia membuka les matematika untuk pelajar di rumahnya. Anak-anaknya membantu menopang keuangan dengan berjualan es lilin.

Dewi fortuna hinggap kala seorang kerabat mengajaknya terlibat dalam penggarapan proyek infrastruktur. Saat itulah Hamami berkenalan dengan manajemen Caterpillar, pabrikan traktor dan alat berat lain yang berbasis di California, Amerika Serikat.

Caterpillar, yang sebelumnya memiliki agen penjualan di Surabaya, melirik Hamami sebagai dealer pengganti lantaran tertarik dengan latar belakang militer dan reputasinya yang bersih. Ia lantas mulai belajar manajemen secara profesional dan mengambil kuliah bisnis.

Maraknya pembangunan infrastruktur pada pertengahan dekade 70-an membawa angin segar pada bisnis traktor. Order bertambah, pundi-pundi Trakindo pun makin tebal.

Tapi jalan tak selalu mulus. Tahun 1999, saat krisis ekonomi merebak, Trakindo terpukul dan Hamami berusaha keras melunasi utang US$ 118 juta.

Selepas itu, tak ada bank yang mau membiayai bisnisnya. Tak cuma bisnis yang lesu, kesehatan Hamami pun menurun. Ia terserang glaukoma dan mengalami kebutaan hingga saat ini.

Lepas krisis, perlahan Trakindo bangkit. Di bawah komando Rachmat Mulyana alias Muki, putra ketiga Hamami, perusahaan ini tumbuh dan beranak-pinak. Kini, tak cuma bisnis traktor dan alat berat karena mereka juga menggarap sektor pertambangan, pembiayaan, logistik, hingga teknologi informasi. Hebatnya, hingga 2009, perusahaan ini berkembang tanpa mengandalkan utang.

Kepada Forbes, Muki mengatakan tahun lalu pendapatan mereka mencapai US$ 2 miliar dan akan tumbuh hingga US$ 3,2 miliar tahun ini. Ditargetkan pada 2015 mereka bisa membukukan pendapatan US$ 6 miliar. Toh, meski sayapnya kini melebar, ia mengatakan bisnis utama Trakindo tetap alat berat. "Ibaratnya, alat berat menjadi roti dan mentega bagi kami," kata dia.

FERY FIRMANSYAH
source : Tempo

Minggu, 09 Oktober 2011

Ini Dia Anak yang Kaya Hati

Lalu Abdul Hafiz, adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya Mamiq Syamsul Hadi, berusia 67 tahun, adalah seorang pria tua yang sesekali bekerja sebagai buruh lepas. Ibunya bernama Baiq Sakyah, seorang ibu rumah tangga. Rumah orang tuanya berdinding gedek (anyaman bambu) dan beratap ilalang.

“IQ itu gak penting, yang penting semangat,” ungkap Lalu Abdul Hafiz dengan penuh keyakinan. Hal inilah yang selama ini ia buktikan. Kondisi ekonomi keluarganya tidak membatasi Hafiz dalam berprestasi hingga meraih perunggu dalam olimpiade astronomi di Kyrgiztan. “Saya ingin jadi guru fisika atau dosen astronomi,” ujar Hafiz mengenai cita-citanya. Ia hanya tersenyum simpul saat ditanya mengapa tidak menjadi astronom atau profesi lain yang lebih tinggi. Barangkali, kondisi ekonominya memaksanya untuk tidak bermimpi terlalu jauh. Namun, ia begitu mencintai astronomi sebagai bidang yang ingin ditekuninya.

Setiap harinya, ia mewajibkan dirinya untuk belajar 9 jam di siang hari dan 4 jam di malam hari. Buku-buku astronomi di perpustakaan sekolah pun sudah habis dibaca Hafiz seluruhnya. Ia bahkan rajin mencari tambahan melalui internet. Namun, hal ini harus puas dilakukannya dengan meminjam laptop milik temannya di sekolah. Untuk dapat menikmati akses internet dengan bebas di warung internet (warnet), ia pun masih terkendala jarak dan kemampuan ekonomi yang terbatas.

Menyadari keadaan ekonomi keluarganya, Hafiz giat menabung untuk membantu kedua orangtuanya. Hadiah menang olimpiade pun ia kumpulkan sedikit demi sedikit dalam tabungan. Hasilnya? Ia dapat membantu renovasi rumah kedua orangtuanya, hingga sekarang dapat memiliki dinding tembok dan atap genteng. Rumahnya masih sederhana, tapi setidaknya rumah mereka kini jauh lebih baik dari sebelumnya yang hanya berdinding bambu dan beratap ilalang. Kesederhanaan dan semangat Hafiz membuktikan bahwa keterbatasan ekonominya tidak menghalangi ia untuk berprestasi dan meraih apa yang selama ini dicita-citakan.

Senin, 05 September 2011

Julie: Belasan Usaha Sebelum Kepala Tiga


KOMPAS.com — Tak ada kata lain yang paling pas untuk menggambarkan Julie Shie selain tangguh. Perempuan yang belum genap 30 tahun ini mulai berbisnis pada usia delapan tahun. Kini, Julie memiliki 14 perusahaan dengan omzet miliaran rupiah per tahun.

Memulai usaha sendiri tidak perlu menunggu usia matang dan modal segudang. Julie Shie membuktikan hal itu. Dengan ketekunan dan tekad kuat, perempuan kelahiran Aceh, 29 tahun silam ini, kini sukses menjadi salah pengusaha multinasional.

Saat ini perempuan bernama asli Yulianty, kelahiran 8 Februari 1982, ini memiliki sekitar 14 perusahaan di bawah payung Worldwide Group. Sebagian besar bergerak di jasa transportasi, logistik, dan properti. Tahun lalu, total omzet bisnis Julie mencapai 12 juta dollar AS.

Lahir dari keluarga biasa dan secara ekonomi tidak berkekurangan, sejak kecil, Julie dididik selalu menghargai uang. Di sebuah kota kecil di Aceh, ayahnya adalah juragan angkot yang juga memiliki bisnis cuci pakaian (laundry). Meski berada, ayahnya tak pernah begitu saja memberi Julie uang saku. "Untuk beli permen Rp 50 saja, saya lebih dulu ditanya macam-macam," kenang Julie.

Alhasil, Julie kecil menjadi biasa untuk mandiri agar bisa mendapatkan yang diinginkan. Pada usia enam tahun, ia membantu sang ayah berbisnis demi mendapat uang saku lebih. Setiap hari, kerjanya memilah pakaian dan menandai pakaian milik pelanggan.

Julie juga sering ikut ibunya pergi dari satu kota ke kota lain untuk berbisnis. Lantaran terbiasa berkomunikasi dengan banyak orang, ia tumbuh menjadi anak kecil yang supel dan menyenangkan.

Keasyikannya membantu bisnis orangtua membuat prestasi ketika awal masuk sekolah dasar jadi jeblok. Pada semester pertama bersekolah, ia menjadi satu-satunya anak di kelas yang tidak bisa membaca. Begitu rapor dibagikan, ia merasa sangat malu dan bertekad akan berubah. Sejak saat itu, ia belajar sangat giat hingga menjadi juara pertama sejak kelas II SD hingga bangku SMP.

Meski begitu, sembari sekolah, Julie tetap asyik berbisnis. Pada usia delapan tahun, ia sudah berjualan permen dan makanan ringan di sekolah. Modalnya dari uang saku yang disisihkan sedikit demi sedikit. Ia berbelanja barang untuk dijual di toko grosir milik tantenya.

Pada usia 14 tahun, Julie sudah bekerja paruh waktu di toko unggas dan toko elektronik. Ketika duduk di kelas III SMP, Julie mulai mengajar privat anak TK hingga SMP. Bayarannya lumayan. Dari satu murid, ia bisa dapat Rp 80.000 hingga Rp 120.000. "Kalau dikumpulkan, gaji saya bisa setara dengan pegawai kantoran saat itu," kata Julie bangga.

Namun, Julie tak mau terus menjadi guru. Ia ingin mencoba hal baru. Setelah lulus SMA, ia memilih bekerja di perusahaan perdagangan mata uang asing. D isana, ia belajar dari nol bagaimana menganalisis secara teknikal dan fundamental pergerakan mata uang yen, dollar AS, dan euro.

Lantaran pasar mata uang dollar aktif pada pukul 12 malam, Julie terpaksa lembur dan pulang pagi setiap hari. Pekerjaan ini hanya bertahan tiga bulan. Ia lantas bekerja di PT Toba Internesa, perusahaan jasa forwarding. Lantaran prestasinya, ia dipercaya memegang cabang di Pekanbaru dan Padang.

Karena ada masalah internal perusahaan, pada usia 19 tahun Julie mengundurkan diri dan mendirikan perusahaan forwarding sendiri bernama PT Samudera Indah Berkatindo (SIB). Modal sebesar Rp 30 juta ia pinjam dari ayahnya dan seorang teman. Tak sampai sebulan, bisnis Julie sudah balik modal dan bisa bayar utang.

Maju karena ekspansi

Permintaan yang tinggi membuat Julie kemudian membangun perusahaan forwarding di Singapura bernama Worldwide Shipping Logistic Services Pte Ltd pada tahun 2006. Perusahaan ini menjembatani pedagang karet di Indonesia dengan pembeli di China.

Julie juga membangun Omega Shipping Pte Ltd untuk mengurusi perdagangan komoditas Sino dari Asia ke China. Setahun kemudian, ia membangun Andaman Worldwide Shipping Co Ltd di Thailand.

Tahun 2010, penyuka masakan Indonesia ini mendirikan Worldwide Property Investment Ltd di Singapura, Indonesia, dan Thailand yang menjadi pemasar proyek properti di beberapa negara. Tahun ini, ia bakal membuka kantor di Shanghai, Jepang, dan Korea.

Hingga saat ini, Ibu dari Jiratchaya Angel Parnitehkul, 18 bulan, ini memiliki aktivitas padat lantaran harus mengurusi 14 perusahaan yang tersebar di tiga negara. "Saya pernah ada di tiga negara dalam satu hari atau menghadiri 10 meeting dalam sehari," katanya. Namun, ia memberi catatan, meeting tidak berada di Indonesia yang jalanannya macet.

Saat ini Julie tengah menggarap proyek besar dengan BUMN di China di sektor pertambangan. Ia dipercaya pula menjadi distributor produk water heater Singapura di Indonesia. Perempuan yang bisa 10 bahasa ini juga tengah menjajaki membuat buku khusus anak-anak.

Meski sering tak ada di kantor, Julie tetap bisa memantau bisnisnya. "Semua sudah ada sistem. Saya tinggal kontrol pakai ponsel pintar," katanya. (Diade Riva Nugrahani/Kontan)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/04/22/11014396/Julie.Belasan.Usaha.Sebelum.Kepala.Tiga
Alkin System