Tampilkan postingan dengan label peluang usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang usaha. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2012

Carilah Metode Yang Tepat Untuk Memulai Karir Anda Di Bisnis Online

Jika anda ingin sukses sebagai seorang pebisnis online, kita memang harus mencari tempat belajar yang tepat dan juga seorang mentor yang sudah berpengalaman... yang mempunyai banyak bukti atas keberhasilannya.


Saya yakin anda sudah sering mendengar nama Rudy Setiawan, bukan? Ya, beliau adalah salah satu pebisnis online sukses di Indonesia, bahkan di dunia.


Dengan metode yang beliau miliki, sudah banyak para pelaku bisnis online di Indonesia sampai yang gaptek sekalipun meraih kesuksesan karena mengikuti metode yang beliau ajarkan.


Dan jika anda tertarik untuk mengikuti metode yang beliau ajarkan, berikut ini hanyalah sekelumit metode yang sudah dibuktikan oleh RIBUAN orang yang sudah lebih dulu mengikuti jejaknya...


* Sistem OTOMATIS


Jika anda mengikuti semua metode yang ada dalam bisnis ini, saya yakin anda tidak akan menemukan kesulitan yang berarti.


Hal ini dikarenakan hampir semua metode yang ada dalam bisnis ini berjalan secara OTOMATIS melalui sistem yang beliau ciptakan, sehingga tidak diperlukan lagi kemampuan atau ketrampilan khusus yang seringkali membuat kita malas untuk melakukannya.


Bahkan ketika anda sedang tidur sekalipun, sistem ini akan tetap berjalan!


Kemudahan sebuah sistem dan metode yang ada dalam bisnis online memang menjadi salah satu kunci keberhasilan anda dalam menjalankannya.


* Memberikan Hasil Yang Maksimal


Dengan adanya metode dan sistem yang serba otomatis, tentunya hal ini akan sangat membantu anda untuk bisa meraih penghasilan tanpa batas.


Metode dan sistem yang ada dalam bisnis ini bisa anda dapatkan secara GRATIS, dan saat itu juga bisa langsung anda jalankan.


Dan dalam menjalankan bisnis ini kita biasa menganut prinsip berusaha seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin.


Banyak orang yang sudah bergabung begitu merasakan manfaat metode dan sistem tersebut, sehingga tidak sedikit dari mereka yang terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal, bahkan sampai menjadikannya tumpuan hidup.


* Gamblang Dan Masuk Akal


Meskipun mampu memberikan hasil tanpa batas, namun semua metode dan sistem yang ada dalam bisnis ini dijelaskan dengan gamblang dan masuk akal... hal ini untuk menghindari spekulasi yang mungkin sering kita dengar mengenai bisnis online.


Semua metode dan sistem yang ada dalam peluang bisnis ini, tidak ada sedikitpun yang ditutup-tutupi... sehingga anda bisa mengetahui lebih banyak tentang metode yang ada, sistem bisnis yang dijalankan, jumlah penghasilan anda, dan masih banyak lagi yang bisa anda temukan didalamnya.


Ok, saya tertarik dengan bisnis ini... namun apa yang harus saya lakukan sekarang? Jika anda tertarik dan ingin merubah kualitas hidup anda, TEKAN disini untuk mendapatkan informasi yang selanjutnya.

Senin, 12 Desember 2011

Merintis Sukses dengan Kudapan “Jadul”

BANDUNG – Keripik singkong yang dikemas ulang menjadikan kudapan jadul ini mampu bersaing dengan kudapan yang dianggap lebih tren. Semakin booming-nya kudapan jadul menginspirasi Agus Hermawan untuk merintis usaha sendiri. Lelaki berusia 30 tahunan ini mencoba berbisnis kacimpring.

Kudapan berupa keripik singkong ini memang telah dikenal di Tatar Sunda sejak jaman dulu. Sebagai kudapan tradisional, kacimpring memang baru sebatas dijual di pasar-pasar tradisional maupun di pinggiran jalan.

"Kebetulan paman saya berjualan kacimpring," kata Agus mengawali pembicaraan dengan SH, belum lama ini. Sang Paman, Ujang Sumarna, berjualan kacimpring di Pasar Palasari Bandung sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Menurut Agus pamannya itu sebelumnya bekerja di Sulawesi. Tetapi, karena kecelakaan lalu lintas yang dialaminya ketika bekerja, Ujang di-PHK hingga akhirnya berdagang kacimpring untuk menghidupi anak dan istrinya.

Kacimpring yang dijual Ujang benar-benar masih tradisional. Tanpa kemasan serta dengan rasa yang standar laiknya keripik singkong yang lazim dijual di mana-mana.

Karena tidak ada kemajuan yang berarti dari usaha sang paman itu, Agus lantas ikut turun tangan. Semakin banyaknya kudapan tradisional yang dijual dengan kemasan menarik serta rasa yang beragam menginspirasi Agus.

Di rumahnya di sebuah kampung di bilangan Jl Banteng Bandung, Agus memulai merintis usaha yang benar-benar baru baginya. Langkah pertama adalah mengemas kacimpring buatannya dalam plastik berlabel Mang Ujang.

Inovasi rasa juga dilakukan oleh Agus. Setidaknya ada tiga rasa kacimpring yang dibuatnya, masing-masing orisinal, semipedas, dan ekstra pedas.

Agus sadar inovasi yang dilakukannya tak ada artinya jika pemasaran kacimpiring tetap dilakukan secara tradisional di Pasar Palasari. Jemput bola pembeli kemudian dilakukannya dengan sasaran pasar pertama kali adalah teman sekantor dan koleganya.

Agus tak segan-segan menawarkan kacimpring yang dibawanya untuk dikudap secara gratis oleh teman-temannya. "Bagian dari promosi," kilah Agus sembari tersenyum.

Sesekali Agus menitipkan kacimpring buatannya apabila ada pameran. Promosi dari mulut ke mulut ini terbukti ampuh dengan semakin dikenalnya kacimpring buatannya.

Berangsur-angsur pembelinya terus bertambah. Tak sebatas di lingkungan tempat kerjanya, pesanan dari luar Bandung telah banyak diterimanya. Pangsa kacimpring buatan Agus berbeda-beda. Untuk rasa orisinal lebih banyak diminati kalangan yang telah berumur.

Sementara itu yang rasanya semipedas digemari orang dewasa. "Yang ekstra pedas pembelinya kebanyakan remaja ABG," tutur Agus. Menurut Agus kini dirinya bisa menjual hingga 100 kemasan kacimpring dalam sehari. Harga per kemasan yang hanya Rp 10.000 tak memberatkan kantong pembeli.

Pesanan yang terus bertambah belum semuanya dapat dipenuhi. Keterbatasan modal serta tenaga kerja menjadi faktor penyebab klasik yang dialami usaha kecil seperti yang dirintis oleh Agus ini.

"Tenaga kerja belum bisa ditambah. Baru beberapa orang saja. Itu pun dari kalangan keluarga sendiri," ujar Agus. Untuk urusan modal Agus memenuhinya dari kantong sendiri, mengingat Agus belum berani mengajukan kredit ke perbankan.

Ketiadaan agunan menjadikan langkah Agus untuk mengakses fasilitas kredit perbankan ini harus tertunda. Belum lagi bunga kredit yang dikhwatirkan justru bisa membebani usahanya.

Prinsip pelan-pelan tetapi pasti dipahami betul. Agus memilih menjalankan usahanya perlahan-lahan untuk menuju besar tanpa harus menanggung risiko.

Optimisme masa depan usahanya tetap menyembul di benak Agus. "Insya Allah bisa sukses dengan tetap kerja keras," kata Agus mengakhiri pembicaraan.

Source

Camilan Dari Tanaman Obat


Di tangan Dianie Hadyatie tanaman obat diolah menjadi camilan renyah yang mampu mendatangkan keuntungan jutaan rupiah. Wanita berumur 39 tahun ini memulai usaha membuat peyek secara tidak sengaja. "Tadinya saya mempunyai usaha membuat kerupuk," kata Dianie kepada SH di sela-sela pameran di Bandung, baru-baru ini.

Usaha kerupuknya terhenti karena Dianie tak memperoleh pasokan bahan baku. Ide membuat peyek muncul setelah ia memperoleh pengetahuan dari keluarganya yang tinggal di Jawa Timur. Peyek atau rempeyek merupakan camilan yang banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena belum berpengalaman, Dianie membuat peyek untuk dicoba di kerabatnya sebelum dijual.

Ternyata camilan olahan tangan Dianie ini disukai. Ia lalu membuatnya untuk dititipkan di warung di sekitar rumahnya di kawasan Bandung Barat. Makanan yang dibuat bukanlah peyek kacang maupun teri seperti lazimnya. Dianie mencoba tanaman obat seperti daun beluntas, binahong, kenikir, surawung (kemangi) serta sayuran seperti bayam dan kangkung.

Beluntas dan surawung, misalnya, lazimnya dikonsumsi untuk mengatasi bau badan. Daun binahong memiliki manfaat sebagai obat darah tinggi maupun asam urat. "Khasiat tanaman obat itu tidak hilang setelah diolah menjadi peyek," terang Dianie. Setelah digoreng, tanaman obat ini memiliki khasiat, meskipun diakui Dianie berkurang. Olahan peyek Dianie tak sekadar camilan biasa. Dengan memanfaatkan bahan tanaman obat, peyek yang diolah Dianie memiliki khasiat kesehatan.

Diversifikasi peyek laris manis. Supaya tidak tergantung kepada orang lain dalam masalah bahan baku, Dianie menanami pekarangan rumahnya dengan tanaman obat yang dibutuhkannya itu.

Hanya bayam dan kangkung yang harus tetap dibelinya dari petani. Setiap hari Dianie membutuhkan 15-20 kg tanaman obat yang diolahnya menjadi peyek.

Pemasarannya diperluas tak hanya di lingkup tempat tinggalnya. Untuk meraih pasar, Dianie mengemas peyek seperti layaknya camilan yang dijual di pasar modern maupun toko oleh-oleh.

Setelah sekitar tiga tahun, peyek yang diberi merek Nusasari ini dipasarkan di kantin-kantin rumah sakit dan kantor, toko oleh-oleh hingga rest area Tol Cipularang antara Padalarang-Karawang. Tak berhenti di situ saja, Dianie rajin mengikuti berbagai pameran di Bandung maupun Jakarta, meski untuk itu ia harus merogoh kocek sendiri. Tidak jarang Dianie memperoleh pesanan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, secara rutin ada orang yang membeli untuk dijadikan sebagai buah tangan keluarganya di Singapura.

"Memang ada yang selalu pesan untuk dikirim ke Singapura. Jumlahnya tidak banyak," tutur Dianie. Toh semakin luasnya pasar merupakan bukti peyek tak lagi menjadi camilan lokal semata karena lidah orang asing ternyata tidak asing dengan peyek. Kerja keras tak kenal lelah ini berbalas keuntungan. Setiap bulan Dianie mampu mengantongi omzet Rp 15-20 juta.

Omzet yang disebut Dianie lebih besar dibandingkan ketika ia masih memproduksi kerupuk. Bahkan, Dianie mampu mengantongi keuntungan hingga 50 persen dari omzet tersebut. Dari keuntungan inilah Dianie terus mencoba mengembangkan usaha. Menurutnya pinjaman dari sebuah bank BUMN pernah diterimanya senilai Rp 10 juta. "Sebisa mungkin untuk modal saya sisihkan dari omzet, meski tetap belum mencukupi untuk menambah produksi," ujar Dianie mengakhiri obrolan.

Source

Sabtu, 26 November 2011

Sedap, Bisnis Sambal Kemasan



Menyantap nasi tanpa sambal terasa kurang lengkap dan kurang nikmat. Pedasnya sambal tidak pernah membuat penikmatnya kapok untuk menikmati yang kedua kali.

Hanya saja, tidak semua sambal cocok dengan lidah penikmatnya. Bahkan, sambal yang racikannya tidak sesuai malah membuat perut mulas sampai diare. Namun, di tangan Aisyah Rusdan (48), warga Jl Nusa Indah, Kota Malang, racikan sambal bisa dinikmati penggila sambal dari segala usia.

“Ada pula sambal yang bisa dinikmati anak masih balita karena saya tidak menggunakan cabai rawit. Saya meraciknya dengan cabai besar, sehingga tidak terlalu pedas,” kata Aisyah Rusdan ketika ditemui Surya, belum lama ini.

Usaha pembuatan sambal kemasan ini baru dilakoni Bu Rusdan, sapaan akrab Aisyah Rusdan, sejak empat bulan silam. Bisnis sambal kemasan ini bermula dari usaha katering yang sudah dia lakoni sejak 2005. Dalam pengamatannya, selama melakoni bisnis katering, sambal ternyata cukup laris. Karena itu, dia berinisiatif mengembangkan bisnisnya dalam bentuk sambal kemasan.

Inisiatif ini mulai diwujudkan saat dia ikut pameran masakan di Kota Malang, beberapa waktu lalu. Dalam pameran yang digelar selama tiga hari itu, Bu Rusdan belum berani membuat sambal kemasan dalam jumlah banyak. Sebagai uji coba produk barunya, dia hanya membuat 120 botol sambal. “Sambal yang saya bawa ini habis dalam tiga hari itu. Dari sini saya yakin produk saya disenangi masyarakat,” tambahnya.

Sejak saat itulah konsumen berdatangan di rumahnya yang juga berfungsi sebagai tempat produksi sambal di Jl Nusa Indah. Bu Rusdan menjual sambalnya Rp 10.000 per botol. Tetapi, di pasaran harganya bisa mencapai Rp 12.500 sampai Rp 13.500 per botol. Meski baru dilakoni empat bulan, Bu Rusdan bisa merasakan nikmatnya bisnis sambal dan bumbu kemasan. Setiap hari dia mampu menjual lima kardus sambal dan bumbu kemasan yang setiap kemasan berisi 30 botol.

“Di antara yang saya produksi sambal bawang, sambal trasi, sambal kanton, bumbu rujak manis, petis bumbu siap makan, bumbu soto Solo, bumbu soto Lamongan, bumbu opor, dan bumbu mie goreng,” terang Bu Rusdan.

Dengan asumsi Bu Rusdan mampu menjual lima kardus sambal dan bumbu per hari, berarti omzetnya mencapai Rp 1,5 juta per hari. Untuk meringankan pekerjaannya memenuhi permintaan konsumen, Bu Rusdan juga melibatkan warga sekitar rumah. Mereka bekerja sebagai pembersih cabai, bawang merah, dan bawang putih. Upahnya tergantung kemampuan mereka membersihkan bahan mentah sambal dan bumbu kemasannya itu. Bu Rusdan memberi honor sebesar Rp 1.000 per kg cabai dan bawang putih, serta Rp 1.500 per kg untuk bawang merah. “Mereka rata-rata mampu membersihkan sampai 70 kg bahan mentah,” urainya.

Jaga Resep, Tak Takut Dibajak

Ibu Rusdan menyadari bumbu racikannya sudah bernilai komersial. Makanya, dia merahasiakan resep sambal dan bumbu kemasannya pada publik. Sembilan pegawai yang membantunya juga dipastikan tidak mengetahui resep rahasianya.

Untuk menjaga rahasia resepnya, dia membagi tugas pada pegawai. Sebagian ada yang bertugas memilah dan menggoreng saja, sebagian ditugaskan menggerus, dan sebagian lagi mengerjakan pekerjaan lain.

Bahkan, saat pergi keluar kota dalam jangka waktu lama, dia memilih tidak memproduksi sambal atau bumbu kemasan. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, stok barang diperbanyak sehingga konsumen yang datang ke rumahnya tidak kecewa. “Paling lama saya hanya pergi selama tiga hari,” ungkap Bu Rusdan.

Ibu tiga anak ini mengaku tidak menutup kemungkinan resep rahasianya sudah bocor. Tetapi dia tidak khawatir produknya bakal dibajak oknum tak bertanggungjawab atau mantan pegawainya. Dia yakin pembajakan itu tidak akan memengaruhi bisnisnya. “Saya yakin bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Kalau mau membajak, silakan, asal persaingan di pasar dilakukan dengan sehat,” urai Bu Rusdan.

Sri Emi H, seorang konsumen sekaligus pemasar, secara terpisah mengungkapkan, sambal dan bumbu produksi Bu Rusdan sangat enak dan cocok bagi lidah kita. ”Permintaan dari masyarakat maupun para pegawai negeri sipil (PNS) sangat banyak. Sepekan saja, saya mampu memasarkan dua dos yang berisi 60 botol,” kata Emi, sapaan akrab perempuan berkerudung itu.

Menurut ibu dua putera ini, sambal dan bumbu bikinan Bu Rusdan sudah komplet. Namun, masih ada bumbu yang belum diproduksi dan banyak konsumen yang menanyakan. ”Bumbu lodeh yang banyak menanyakan, sedang bumbu rendang informasinya masih dalam proses peracikan,” ungkap Emi.

Terkait bumbu dan sambal kemasan ini, Emi juga memberi tips bagaimana agar awet dan terus enak. Menurutnya, sambal dan bumbu setelah digunakan harus ditutup kembali rapat-rapat dan kalau punya lemari es dapat dimasukkan ke dalamnya.

Rabu, 02 November 2011

Nilai Ekonomis Tanaman kangkung

Siapa yang tak kenal kangkung ?? hampir semua lapisan masyarakat mengenal dan menyukai sayuran satu ini. Kangkung pun mudah dapat di gunakan berbagai macam masakan, mulai dari tumis kangkung yang memiliki banyak penggemar itu, pecel, sayur bening dll. Sehingga permintaan kangkung cukup besar, bahkan di daerah Lombok kangkung sudah banyak yang dikirim daerah lain seperti Surabaya maupun Jakarta dan bahkan sudah bisa di ekspor. Dari situ bisadilihat jika kangkng memang menjanjikan secara ekonomi.

Selain menguntungkan, budidaya kangkung cabut ternyata juga tidak merepotkan. Dari benih hingga panen, kangkung cabut tak perlu ada perawatan yang intensif. Jika pemupukan sesuai takaran dan tepat waktu, maka kangkung cabut bisa dipanen saat usia 25 hari. Paling musuh yang harus dihinadddari hanyalah belalang yang bisa merusak daun kangkung.


Untuk menanam kangkung dimulai dengan menyediakan lahan bertanah gembur. Setelah itu lahan ditaburi pupuk kandang. Untuk satu hektare lahan butuh 200 kilogram (kg) pupuk kandang. "Pupuk kandang adalah asupan terbaik bagi kangkung cabut," kata Joko Patmono, Direktur PT Raja Pilar Agrotama, perusahaan penyedia bibit kangkung di Yogyakarta.

Setelah memberikan pupuk, pembudidaya bisa menaburkan benih berupa biji kangkung cabut. Untuk satu hektare lahan memerlukan sedkitnya 12 kilogram (kg) benih.

"Benih itu ditabur saat lahan dalam kondisi lembap, karena kangkung adalah jenis tanaman yang suka air," terang Joko.

Setelah tiga hari, benih kangkung itu akan berubah menjadi kecambah. Sampai dengan usia satu minggu, kecambah akan tumbuh setinggi 4 centimeter (cm). Saat usia satu minggu itulah saat yang tepat bagi pembudidaya melakukan pemupukan kedua. "Pemberian pupuk kedua bisa berupa pupuk urea minimal 500 kg untuk satu hektare," jelas Joko.

Menurut Joko, pemberian pupuk tahap dua berguna untuk menunjang pertumbuhan kangkung cabut. Tahap selanjutnya tanaman kangkung cabut tak perlu mendapatkan perhatian khusus, kecuali penyiraman air di waktu pagi, terutama saat musim kemarau. "Kalau musim hujan pembudidaya tidak perlu menyiramnya," ulas Joko.

Kangkung cabut adalah tanaman yang tidak mengenal musim dan bisa tumbuh di semua jenis tanah asalkan tanah itu dalam kondisi gembur. Selain perawatan yang mudah, keunggulan kangkung cabut lainnya adalah tahan terhadap terpaan angin alias tidak mudah roboh.

Menurut Hery, tingkat kegagalan panen kangkung cabut sangatlah rendah ketimbang sayuran lain. Asalkan mengikuti prosedur tanam dan pemberian pupuk tepat waktu, maka kangkung cabut berkualitas bisa dipanen saat usia 25 hari. "Kangkung cabut termasuk tanaman yang kuat, tetapi harus diawasi agar tumbuh baik," katanya.

Karena waktu usia panen bisa diprediksi membuat pasokan kangkung cabut selalu tersedia di pasaran.

Itulah sebabnya, banyak pemilik restoran, rumah makan, suka menyajikan menu kangkung cabut. Selain itu, pembudidaya bisa memasok ke supermarket. "Wajar jika kangkung cabut mahal karena peminatnya banyak," ujar Joko.

Kamis, 22 September 2011

Keripik Jamur Aneka Rasa

Keripik adalah salah jenis camilan populer yang paling digemari setelah kacang. Aneka jenis keripik menjadi pilihan sebagai suguhan yang tepat untuk acara santai atau pesta.
Oleh: Yuyun Anwar
Konsultan dan Penulis Buku Kuliner Indonesia

Budaya ngemil adalah merupakan salah keunggulan pasar makanan Indonesia karena menciptakan permintaan terus-menerus. Ngemil dan menyuguhkan makanan kecil adalah kebiasaan turun-temurun. Lihat saja industri yang memenuhi kebutuhan snack atau makanan kecil banyak dikelola oleh perusahaan besar.
Keripik yang dimaksudkan di sini adalah jenis makanan ringan yang memiliki ciri renyah, gurih, tidak terlalu mengenyangkan. Keripik biasanya dikeringkan dengan cara digoreng atau dioven. Keripik sangat praktis karena kering, sehingga lebih awet dan mudah disajikan kapan pun. Untuk menyajikan keripik tak perlu memasak ulang atau menggorengnya. Cukup membuka bungkus dan siap dimakan.

Keripik yang paling populer bisa jadi adalah keripik singkong, namun tidak menutup kemungkinan akan berkembangnya variasi keripik lainnya. Salah satunya adalah keripik jamur. Beberapa tahun lalu ketika booming budidaya jamur kancing, bermunculan aneka keripik jamur yang rasanya gurih renyah di beberapa kota besar. Saat ini pun budidaya jamur tiram yang makin marak. Dengan tersedianya bahan baku,bisa menjadi potensi untuk mengembangkan usaha keripik jamur tiram.

Keripik jamur tiram dibandingkan dengan jenis jamur lain barangkali memiliki keunggulan dari ketersediaan bahan baku. Jamur tiram tersedia dalam jumlah besar. Rasa keripik jamur tiram tidak kalah dengan jamur lainya, bahkan lebih mirip dengan rasa daging (meaty taste), sehingga keripik jamur ini lebih gurih dan lezat. Karena itu, keripik ini bisa dipastikan akan memiliki fungsi ganda yaitu sebagai camilan sekaligus lauk.

Fungsi ganda akan membuat permintaan semakin besar karena variasi konsumsinya juga besar. Keripik dari bahan jamur memiliki nilai lebih dari sisi kesehatan dibandingkan dengan bahan hewani lainnya, misalnya, paru sapi, karena jamur memiliki nutrisi lebih dan tidak menimbulkan efek bagi kesehatan. Tidak banyak mengandung kolesterol sebagaimana keripik paru atau kulit ayam.
Keripik jamur tiram lebih variatif bentuknya bisa dibuat melebar dan panjang, sehingga terlihat utuh dan rasanya bisa dipadu padankan dengan aneka bumbu. Jadi pilihannya sangat variatif sehingga pembeli bisa memilih mana yang paling tepat dan tidak cepat bosan.

Keripik Renyah dan kering
Sebagai sebuah camilan, keripik jamur harus memenuhi standar rasa yang disukai umum yakni renyah dan kering. Jamur memiliki kelemahan yakni after taste yang kurang enak dan bentuk jamur tiram yang kadang besar dan tebal. Beberapa teknik berikut untuk mendapatkan rasa keripik yang renyah adalah sebagai berikut.
Sebelum digunakan untuk keripik, lakukan “pengeringan” kandungan air di dalam jamur agar berkurang. Dari jamur segar langsung bisa dicuci dan dikeringkan (bisa dengan manual menggunakan lap dan tangan). Pengeringan cara manual dan dalam kondisi segar kadang-kadang menghasilkan banyak remah (apalagi jika jamur kondisi sudah mulai berkurang kualitasnya). Anda bisa mengukus sebentar selama 10 menit lalu keringkan. Pengering dengan skala besar bisa menggunakan mesin pengering.

Lakukan “pemipihan” yakni dengan memukul jamur yang akan digunakan keripik sehingga permukaannya datar dan sama, meski bentuknya tidak sama. Terutama bagian batang yang tebal. Pemipihan bisa dilakukan manual dengan menggunakan palu atau ulek-ulek. Pemipihan dimaksudkan agar saat digoreng keripik tetap kering. Kadang-kadang bagian yang tidak pipih membuat jamur lembap karena kandungan air tidak hilang saat digoreng.

Penggorengan yang sempurna akan menghasilkan keripik jamur maksimal jika menggunakan mesin goreng vacuum drying. Namun, bagi yang belum memiliki mesin ini bisa menggunakan penggorengan manual dengan teknik penggorengan dua kali yakni penggorengan awal dengan suhu sedang yang dimaksudkan untuk mengeluarkan sisa kandungan air dalam jamur.

Minyak dalam gorengan pertama ini sering bercampur dengan air. Penggorengan pada proses ini butuh waktu yang agak lama. Angkat dan tiriskan lalu goreng lagi pada suhu panas 170 derajat Celcius sampai keripik renyah dan mengapung. Angkat.
Jika hasil akhir ternyata masih ada bagian basah, Anda bisa memperbaikinya dengan memasukkan dalam oven dengan suhu 70-90 derajat Celcius. Proses penggorengan dua kali tidak perlu Anda lakukan jika proses penggeringan jamur sudah sempurna, namun memang jika dilakukan manual sering kurang bagus hasilnya. Jika penggeringan sempurna lakukan langsung sekali goreng saja agar efisien.

Penirisan yang baik, agar hasilnya maksimal tidak berminyak lakukan penirisan yang sempurna. Alat peniris (mesin tapis minyak) dalam skala besar bisa menjadi alternatif. Akan tetapi, jika masih manual bisa dengan menggunakan saringan dan kipas angin agar minyak yang tersisa jatuh.
Resep Keripik Jamur Rasa Ayam Bawang

Bahan:
- Jamur yang sudah dikeringkan 1 kg
- Tepung beras 400 gr
- Santan cair 450 ml
- Tapioka 50 gr
- Bawang putih 50 gr
- Bawang merah 50 gr
- Ketumbar bubuk 2 gr
- Kemiri 50 gr
- Garam 15 g
- Penyedap rasa 2 gr
- Perasa ayam bawang bubuk 25 gr

Cara Membuat:
Siapkan jamur tiram yang sudah dikeringkan dan dipipihkan dengan baik. Adonan untuk tepung celup mulai tepung beras, tapioka, kemiri, dan sebagainya dicampur menjadi satu sampai jadi tepung celup. Jika kurang encer bisa ditambahkan lagi air atau santan. Sisihkan perasa ayam bawang bubuk yang tidak boleh dicampurkan terlebih dahulu.

Panaskan minyak, celupkan jamur tiram yang sudah pipih dan kering lalu goreng dalam minyak panas sampai kering dan terangkat. Jika sudah agak kecokelatan, angkat dan tiriskan sampai minyaknya benar-benar hilang. Campurkan bumbu perasa ayam bubuk dan diaduk-aduk dalam stoples. Dinginkan. Kemas sesuai dengan berat yang diinginkan.
Sumber : surya.co.id

Senin, 05 September 2011

Keripik Bayam, Peluang Usaha Modal Kecil

keripik bayam
Bisnis keripik bayam menjadi alternatif bisnis bagi anda karena cukup mudah diakukan. Selain itu menekunis bisnis keripik bayam tidak memerlukan modal usaha yang besar. Cukup dengan modal yang kecil sudah bisa menjalankan usaha ini. Keripik bayam merupakan makanan camilan alternatif dari sekian banyak makanan camilan. Meski sebagai makanan camilan, keripik bayam mengandung gizi yang cukup besar, karena bayam sendiri dikenal memiliki gizi yang tinggi.

Peluang usaha bisnis keripik bayam cukup terbuka, mengingat minat masyarakat akan makanan ini cukup besar. Disamping itu bahan baku bayam cukup banyak tersedia di sekitar kita. Dapat diperoleh dengan mudah dan harganya murah.

Analisa Usaha Sederhana Keripik Bayam

Untuk memulai usaha keripik bayam ini berikut analisa bisnis secara sederhana saja. Untuk kapasitas produksi yang lebih besar tinggal menyesuaikan saja. Misalnya saja Modal Anda adalah sebesar : Rp.20.000, maka yang bisa dilakukan untuk bisnis keripik bayam ini adalah sebagai berikut :

A. Pengeluaran Untuk Usaha Keripik Bayam

* Membeli 4 ikat bayam : Rp.2000

* Tepung kanji : Rp 2000

* Minyak goreng kecil : Rp. 6.000

* Bumbu-bumbu penyedap (bawang putih,ketumbar, kemiri, kunyit,dan bumbu penyedap) : Rp.3.000

* Plastik kecil untuk membungkus : Rp.5.000 (isi 100)

* Total Pengeluaran : Rp.18.000

B. Pemasukan dari Usaha Keripik Bayam

Sekarang mari mengalkulasikan biayanya :

Jika dalam seikat bayam Anda mampu membuat 3 bungkus bayam yang di dalam bungkus tersebut terdapat 10 lembar daun bayam yang dihargai Rp, 3.000

Maka untuk 4 ikat bayam Anda dapat membuat 12 bungkus bayam, maka omset yang Anda peroleh adalah Rp.36.000, Anda akan mendapat untung Rp.16.000.
Pemasaran Usaha Keripik Bayam

Pemasaran usaha keripik bayam cukup mudah dan sederhana. Sebagai makanan camilan keripik bayam dapat dipasarkan melalui warung-warung di sekitar anda dengan model konsinyasi(titip jual). Jika kualitas keripik bayam sudah bagus dan konsisten dalam hal mutu, serta sudah memiliki label dari dinkes anda dapat memasarkan keripik bayam di supermarket. Untuk memasarkan di pasar modern seperti supermarket memang memerlukan cara-cara tersendiri.(Galeriukm).

Sumber:

http://www.ukmptk.com/~artikel

Baca Juga :

*  Resep Masakan Untuk Usaha

*  Kisah Sukses Usaha Makanan


Dengan Modal Kecil Bisnispun Lancar


Tidak selamanya bisnis memerlukan modal uang yang besar, boleh dikatakan tanpa modalpun bisnis bisa dilakukan dengan sukses. Terlebih lagi jika bisnis dilakoni atas dasar kesukaan atau hobi. Tengok saja Anindita Damayanti ibu rumah tangga muda yang hobi masak-memasak , kesukaannya pada kegiatan memasak menjadikannya sukses dalam mengelola bisnis nugget. Modal awal berbisnis nuggetpun boleh dibilang cukup kecil, hanya 150 ribu rupiah.

Bukan hanya modal bisnis yang kecil namun bisnis nugget buatan Anindita juga sangat memperhatikan kandungan nutrisi dan aspek kesehatan makanan. Hal ini karena nudged buatannya terbuat dari bahandasar daging ayam tersebut ditambahkan dengan berbagai jenis sayuran dan yang terpenting nudged dibuat tanpa MSG.

Pemasaran bisnis nugget sehat ini pada awalnya dilakukan pada lokasi sekolah Taman Kanak-kanak tempat anaknya sekolah. Dengan berbekal 30 bungkus nugget sayur dan keju ternyata ludes dibeli oleh orang tua murid karena penasara. Setelah itu ternyata banyak anak-anak yang suka sehingga order nudget sayur terus mengalir.

Kini bisnis nugget Anin yang diberi brand nuggetku telah dipasarkan pula memalui Internet di situs www.nuggetku.net78.net. Semenjak itu bisnis nuggetnya berkembang cukup pesat.

Untuk menjalankan bisnis nugget ini yang diperlukan adalah bahan-bahan pembuat nugget, yakni daging ayam giling, sayuran (wortel, bayam, dan brokoli), keju, telur, tepung maizena, tepung roti, serta cornflakes.

Pembuatan nugget pun sangat sederhana dan mudah. Dengan komposisi yang sesuai dan seimbang, semua bahan dicampur lalu dicetak dalam loyang dan dikukus. Setelah matang, nugget dilumuri dengan tepung roti dan siap dikemas tanpa menggunakan bahan pengawet. Jika disimpan dalam freezer, nugget akan bertahan sampai dua minggu.

Untuk peralatan produksi yang diperlukan adalah alat-alat sederhana yang sudah ada di dapur yakni blender, loyang, penggorengan, dan kompor. Pengerjaannya juga dilakukan sendiri tanpa bantuan asisten.

Bisnis yang ditekuni dengan penuh kesungguhan karena hobi meski sederhana ternyata mampu menjadi sumber rezeki. Dan tentunya tidak perlu bingung-bingung memikirkan modal usaha yang besar. Bisnis nuggetku menjadi bukti.(Galeriukm).



Sumber

Sukses Bisnis Wader Goreng


Bisnis Wader mungkin dipandang sebelah mata karena dianggap tidak memberi keuntungan besar, sekecil ukuran ikan wader yang merupakan ikan sungai berukuran kecil sebesar jari. Namun ternyata bisnis wader goreng bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan besar dan mampu menghidupi tidak hanya pelaku bisnisnya tetapi juga 12 karyawannya. Dengan omzet 90 juta per bulan Supriyadi menekuni bisnis wader Goreng yang bisa menjadi Inspirasi bisnis bagi setiap orang.

Liputan Kompas 26 Juni 2010 melaporkan produksi bisnis Wader Goreng Supriyadi warga Dusun Santan, Guwosari, Panjangan, Bantul, Yogyakarta telah beredar di 79 toko dan rumah makan di wilayah Yogyakarta. Dalam sehari ia mampu memproduksi wader goreng sebanyak 200 kilogram wader dan sealu habis terjual.

Awal mula bisnis wader goreng Supriyadi dimulai semenjak ia terkena PHK dari sebuah perusahaan di Jakarta akibat Krisis Moneter tahun 1998. Setelah pulang ke Yogyakarta ia terinspirasi bisnis wader goreng mertuanya, dengan modal usaha 60 ribu ia dan isteri merintis usaha wader goreng. Hasilnya cukup menggembirakan , wader gorengnya laris terjual. Namun demikian bisnis wader gorengnya baru menunjukkan hasil yang menggembirakan setelah tahun 2007.

Rahasia sukses bisnis wader gorengnya adalah pada cara menggorengnya , yaitu melalui dua tahap penggorengan. Wader digoreng dengan tepung kering. Bila pesanan tidak terlalu banyak, wader gorengan pertama ini bisa disimpan hingga satu minggu.

Namun, untuk mendapatkan wader goreng siap konsumsi, wader gorengan pertama di campur dengan tepung basah lalu digoreng kembali. Hasil dari penggorengan tahap kedua ini bisa tahan sampai tiga bulan.

Selain itu rahasia sukses bisnis wader goreng Supriyadi terletak pada kemasan yang dibuat menarik. Manfaat membuat kemasan pada produksi usaha kecilnya dipandang penting untuk menarik minat konsumen membeli produknya.
Selain itu untuk meningkatkan kualitas produk bisnis wader gorengnya Supriyadi melengkapi usahanya dengan Sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Usaha milik Supriyadi ini menjadi satu-satunya usaha skala rumah tangga sektor perikanan di Bantul yang mengantongi PIRT.

Untuk menunjang kelangsungan bisnisnya ia selalu berupaya melakukan diversifikasi produk agar konsumen tidak jenuh. Selain itu limbah wader sedang dipikirkan untuk dibuat kerupuk. Sukses Pak Supriyadi dengan Bisnis wader gorengnya, semoga menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kecil lainnya. (Galeriukm).

Sumber:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/26/07203275/Berjaya.dengan.Wader.Goreng

Bakmi Jamur-Sederhana tapi menghasilkan


“Mas, sepulang renang bungkusin aku mie jamur, yaa !”, pesan istriku sebelum aku berangkat renang bersama putriku, Sabtu 9-02-2008.
Bakmi Jamur ‘C’, di kawasan Cempaka Putih memang enak banget. Mie rebus yang kenyal ditambah irisina bawang goring, ayam goring bumbu dan jamur sungguh racikan yang menawan.
Pernah suatu hari, jam 11.00 sepulang menjemput anakku sekolah, bakul mie ini sudah tutup karena jualannya laris manis. Bukanya sih pagi hari sekitar jam 8.00. Terkadang, sehabis dari BCA yang berada di depannya, aku juga sering mampir. Maklum, jarak tempuh ke rumah juga tidak terlalu jauh, paling Cuma 5-10 menit perjalanan jalan kaki.
Mie ini hanya dijajakan pakai gerobak. Harga paket komplit adalah 12 ribu (di awal tahun 2008). Untuk rasa yang lezat, harga ini tidak lah terlalu mahal. Masih proporsional dengan value yang ditawarkan.
Bisa kita bayangkan bila sehari laku 100 porsi, berapa omzet yang dihasilkan ?
Omzet = 12.000 x 100 = 1.200.000,-
Bila marginnya 40%, berapa gross profit yang dihasilkan ? 1.200.000,-
Gross profit = 480.000,- atau sebulan +- 14.000.000,-
Itu belum termasuk menu minuman seperti teh botol, teh manis, dll.
Lumayan, kan ?
Yang mengejutkan, karena kelarisannya ini, dia tidak hanya membuka gerobak di 1 lokasi, namun beberapa titik. Tidak jelas, berapa gerobak yang dia tempatkan. Namun dia tetap menggunakan media tradisional untuk menjual dagangannya.

Toh, tetap saja laris !
Yang jelas, pedagang seperti ini bisa saja tidak lulus kuliah, tidak juga ikutan seminar, tapi terus belajar dari kondisi di lapangan. Bisa juga tidak punya dream yang muluk-muluk. Mengikuti permintaan pasar. Ada yang minta dibuatkan gerobak, tinggal pesan lagi. Kan sudah biasa. SOP-nya bisa jadi tidak tertulis, tapi cukup direkam dalam otaknya.
Nah, buat kita yang sudah sering ikutan seminar, mari kita gabungkan ilmu lapangan dan ilmu seminaran. Rasanya, ilmu ini bila disinergikan akan menghasilkan Kesuksesan yang lebih dahsyat lagi ! Amieen
Untunglah, siang itu, meski hari belum terlalu siang (masih sempat meeting sama designer percetakan di kolam renang), aku masih kebagian 1 bungkus bakmie untuk istriku tercinta. Nyam-nam.....

Sumber : http://bisnistemanku.blogspot.com/

Sabtu, 03 September 2011

Peluang apa buat karyawan...?

Pernah dengar cerita tentang seorang Office Boy yang mampunyai penghasilan sampingan melebihi gaji yang dia terima dari perusahaan yang mempekerjakannya? dan dia berani menolak kenaikan jabatan walaupun dengan gaji yang lebih besar dari gaji yang dia terima sebagai Office Boy, kenapa??

Sebagai seorang OB tentu dia mempunyai hak untuk keluar masuk ruangan dari dapur hingga ruangan direktur, apalagi ruangan karyawan biasa karena salah satu tugasnya adalah menjaga kebersihan ruangan. Demikian aktifitasnya setiap hari, suatu hari muncul ide untuk menawarkan minuman jus untuk para karyawan di kantor tersebut, mula-mula memang agar ragu, bertanya dan minta saran kepada beberapa karyawan tersebut tempatnya bekerja dan mendapat tanggapan yang bermacam-macam, ada yang mendukung anda yang meragukan keberhasilannya apalagi tidak sedikit modal untuk membeli peralatan dan buah-buahan untuk ukuran dia. Tapi akhirnya dia beranikan diri MEMULAI, jadilah dia menawarkan jus tersebut kepada karyawan2... apa yang terjadi... tidak kurang dari 2 juta yang dia terima dari keuntungan usahanya tersebut setiap bulan tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.

Ternyata, walaupun dia seorang OB tapi ide dan pemikiran usahanya tidak mati, dia melihat peluang dan dimanfaatkannya... saya tidak menyarankan anda untuk menjadi OB supaya berhasil seperti cerita diatas. Saya hanya ingin memperlihatkan bahwa diposisi apapun kita disana ada peluang, kreatifitas ide sangat dibutuhkan... dan yang paling penting ayunan langkah kecil pertama untuk merealisasikan ide tersebut. teman sekantor saya ada yang menawarkan jilbab, madu, celengan unik, kue sarapan, kue lebaran ke rekan-rekan dikantor, ada juga istri teman saya yang sembari duduk dan bercengkrama sesama ibu-ibu yang menunggu anaknya yang masih di TK menawarkan produk seperti bakso atau otak-otak ikan yang masih jarang di pasaran. Semua ada hasilnya, besar kecil itu relatif tapi kalau dilakukan kontinyu...??

Anda masih bingung apa yang hendak anda tawarkan kepada rekan kerja anda... atau tidak punya keahlian untuk membuat sesuatu yang bisa ditawarkan atau anda orang yang agak pemalu untuk melakukan penjualan langsung atau anda takut kerjaan anda terganggu atau anda khawatir usaha tersebut tidak akan jalan dan anda tidak mau menanggung kerugiannya mungkin tidak ada salahnya anda berkunjung ke www.etalase-halal.com, disana ada peluang, peluang yang bisa diambil oleh seorang karyawan.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah beranikah anda?
Alkin System