Tampilkan postingan dengan label mBlitaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mBlitaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Jenang Ketan Asli

enang ketan buatan Nunung Sumbayon (50) diberi label Asli karena menggunakan bahan-bahan yang asli tanpa campuran lain. Bahan utamanya adalah beras ketan dan gula nira yang kemudian diolah secara tradisional tanpa bantuan mesin hingga menjadi jenang yang legit. Nunung merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha orangtuanya sejak era 1970an.

Rasanya yang manis legit, sebenarnya hampir sama seperti jenang-jenang lainnya. Namun, kelebihan jenang ketan buata Nunung ini terasa lebih lebih kenyal, gurih, dan tak membuat eneg . Kemasannya yang dibuat kecil pun pas untuk dinikmati segala usia, bahkan bisa disajikan kapan saja. Jenang ketan ini juga memiliki aroma yang sedap karena dimasak dengan kayu bakar dan api kecil selama 7 jam, sambil terus diaduk secara non stop.

Jenang produksi rumahan ini mampu menghasilkan jenang ketan sebanyak 25 kg. Menurut Nunung, permintaan biasanya tak hanya untuk oleh-oleh saja tapi juga sebagai salah satu makanan untuk seserahan. “Jenang ketan bisa di order untuk syukuran, selamatan, atau seserahan. Tradisi di Blitar, bila akan menikah dan melakukan seserahan biasanya ada jenang ketannya. Jadi produksi lancar terus, alhamdulillah,” ucap Nunung yang membuka toko jenang Asli di depan rumahnya, Jl. Prambanan No. 6 Blitar.

Jenang olahannya tak hanya bisa di dapatkan di Blitar saja, tapi juga beberapa tempat oleh-oleh di sejumlah kota, seperti Malang dan Surabaya. Bahkan, dengan bangga Nunung pun menceritakan, jenangnya sudah sampai ke Belanda dan Australia, karena banyak pelanggan setianya di luar negeri selalu membawa jenang ketan buatannya sebagai oleh-oleh. Harga jenang ketan Asli Rp 1.000/bungkus kecil, dan dapat bertahan hingga 1 bulan lamanya.

Sambal Pecel Karang Sari

Sambal pecel juga merupakan produk jagoannya dari Blitar, sambal pecel Karang Sari adalah sambal pecel pionir yang dijual dalam kemasan plastik, serta kerap menjadi oleh-oleh wajib dari Blitar. Sang pemilik, Ny. Cendrawati (70), menceritakan kepada NOVA saat ditemui di toko dan tempat produksinya, Jl. Karang Sari 153, Blitar, awal usaha sambal pecelnya yang sudah go Intenational .

Sambal pecel ini pertama kali di produksi pada 1978. Diberi merek Karang Sari, sesuai dengan lokasi pembuatannya. Saat itu, Cendrawati melihat banyak orang menyukai sambal pecel Blitar, dan menurutnya akan lebih bagus bila dikemas dengan baik karena bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas Blitar.

Dulu, Cendrawati memproduksi sendiri sambal pecelnya di rumahnya dengan jumlah yang sedikit, hanya 1-3 kg saja. Namun, saat ini ia sudah mampu menggaji sekitar 20 karyawan yang mampu menghasilkan berton-ton sambal pecel, dibantu sejumlah mesin produksi.

Sambal pecel olahan Cendrawati juga sudah tersohor kelezatannya dan tersebar di seluruh Indonesia, sebab sudah memiliki penjual dengan sistem keagenan. Sehingga, tak heran bila Anda akan mudah menemukannya di sejumlah peritel (supermarket) besar hingga jaringan swalayan-swalayan kecil.

Harga per kemasannya Rp 5 ribu untuk yang memiliki berat sekitar 2 ons. Tersedia pula dalam tiga pilihan rasa, yakni manis, sedang, dan pedas. Bagi yang ingin membawa sambal pecel Karang Sari sebagai oleh-oleh, Cendrawati juga menyediakan berbagai ukuran kemasan untuk mewadahinya.

Soto Tukimin

Soto yang terletak di Jalan Kalibrantas No. 49, Desa Sumberudel, Blitar, ini dikenal sebagai soto langganan Wapres Boediono. Konon, setiap ia pulang ke kampung halamannya ini bisa dipastikan akan selalu mampir ke warung Soto Tukimin.

Sebenarnya, menurut cerita Tuminah (69), generasi kedua Soto Tukimin, cikal bakal soto ini adalah Soto Pak Tukimin yang sudah ada sejak zaman agresi militer Belanda ke-2, yakni sekitar tahun 1948. Sebelum berada di lokasi yang sekarang, Soto Tukimin hingga tahun 1997 berlokasi di sebelah Gedung Patria, tepatnya di Jl Cokroaminoto. Pindah tempat karena sang pemilik membeli tempat yang lebih luas dan nyaman.
“Dulu, sejak saya kecil memang sudah diajari memasak soto oleh Bapak. Saya memang anak pertama Pak Tukimin, jadi saya yang meneruskan usaha beliau. Beberapa adik saya juga buka warung soto, walaupun tidak menggunakan nama Bapak,” ungkapnya.

Soto Tukimin terkenal lewat soto ayamnya, meski di sini juga tersedia soto daging sapi yang tidak kalah enaknya. Tuminah membuka warungnya dari pukul 08.00 hingga 17.00. Setiap harinya, kata Tuminah, ia biasa menghabiskan sekitar 200 mangkuk soto ayam dan 100 mangkuk soto daging. Harga per mangkuknya Rp 5 ribu, dengan ukuran mangkuk yang sedang. Namun, porsi soto yang disajikan tergolong banyak. Sehingga para penyuka soto bisa dengan puas menikmatinya.

Soto Tukimin merupakan salah satu lokasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi. Pasalnya, gaung kenaran soto ini tak hanya berhenti di Blitar saja, melainkan sudah mencapai kota lain, bahkan Jakarta. Sehingga, tidak heran bila banyak artis ibu kota yang pernah mampir mencicipinya soto ini.
Bumbu yang diracik oleh Tuminah pun diakui tak memiliki keistimewaan khusus, namun ia memang masih mempertahankan kualitas bahan baku dan citarasa khas dengan memilih ayam kampung untuk melengkapi kuah sotonya

Soto Bok Ireng

Soto, hidangan berkuah yang enak disantap di segala waktu dan suasana ini memang menjadi kegemaran banyak orang. Di kota mana pun, Anda pasti akan menemukan soto khas daerah setempat. Nah, kali ini NOVA menyajikan berbagai sajian berkuah khas Blitar (Jatim). Tak lupa, disertakan juga satu resep soto bercitarasa asli Kota Patria ini.

Soto Bok Ireng Warung Bertembok Hitam
angan di kira Soto Bok Ireng (hitam) ini kuahnya berwarna hitam. Yang berwarna hitam ternyata adalah tembok warungnya, yang disingkat menjadi bok ireng. Kelezatan soto ini terletak dari koyanya yang gurih dan kuahnya yang terasa ringan tak berlemak, sama seperti soto di daerah Jawa lainnya.

Kayatin (64) yang sudah 25 tahun meneruskan usaha Soto Bok Ireng sepeninggal ibunya, tak pernah pindah lokasi sejak lama, tetap membuka warungnya di persimpangan Jalan Kelud, Blitar. Warung sempit yang juga tak berubah ukuran sejak dulu, kira-kira berukuran 3 x 3 meter, selalu penuh dan menjadi pilihan warga Blitar untuk mengisi perut.

Soto daging atau jeroan yang disajikan dalam mangkuk kecil ini dihargai Rp 5 ribu saja. Jadi wajar bila banyak pelanggannya bisa menghabiskan Soto Bok Ireng hingga 2-3 mangkuk sekali makan, agar lebih puas menikmatinya.
Setiap harinya, Kayatin menghabiskan 10 kg daging dan jeroan dalam waktu singkat, sebab ia membuka warung sejak pukul 08.00 hingga 14.00. Dan biasanya, sebelum sore warung Soto Bok Ireng sudah tutup karena sotonya sudah habis.

“Kadang habisnya bisa lebih cepat. Berapa banyak mangkuk soto yang terjual, saya enggak pernah hitung. Tahu-tahu panci yang terus di jok (di tuang), sudah habis,” ujar Kayatin yang mengaku tak pernah merasa lelah setiap hari berjualan soto.
Uniknya, di dalam warung soto bok ireng ini masih terdapat satu rombong (pikulan) soto model tanduk sapi yang dijaga langsung oleh Kayatin agar racikan sotonya pas dan sesuai takarannya.

Suasana warung soto Kayatin sangat sederhana, tak ada hiasan apapun selain kalender yang menggantung di tembok berwarna hitam, serta atap yang juga menghitam dipenuhi jelaga akibat asap dari proses memasak soto. Namun, makan di warung ini akan terasa nuansa Blitar yang begitu khas.

Wajik Kletik Ibu Prajitno

Kue wajik oleh-oleh Blitar yang satu ini tergolong unik dan berbeda dari wajik pada umumnya. Wajik Kletik Ibu Prajitno merupakan kue tradisional khas Blitar yang sudah di produksi sejak 1969 oleh Ibu Prajitno. Dibungkus dengan klobot (pelepah jagung yang dikeringkan) yang di setrika kemudian dijahit rapi, dengan isi wajik terbuat dari beras ketan dan gula kelapa. Rasanya, sangat legitdan membuat penganan ini menjadi pilihan nomor satu untuk di coba.

Retti Retno Indrawati (45) adalah anak ke 9 dari 9 bersaudara dan menjadi generasi kedua yang meneruskan usaha wajik kletik Ibu Prajitno. Retti juga mengelola O’ODABLI, yang merupakan salah satu toko oleh-oleh dan sentra penjualan wajik produksinya. Lulusan Administrasi Niaga, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya ini berhasil mengembangkan usaha peninggalan orangtuanya. Mulai dari jumlah produksi yang semakin meningkat hingga luas toko yang kian melebar.
“Dulu, Ibu setiap hari paling banyak memproduksi wajik 100 renteng. Sekarang, alhamdulillah setiap hari bisa kami produksi sebanyak 500 renteng,” ungkap Retti saat ditemui di toko oleh-olehnya di Jl. Dr. Ismail No.3, Blitar. Dengan harga sangat bersahabat, Rp 3.500/renteng, wajik kletik ini juga dibuat dalam kemasan besek berisi 10-20 wajik, atau kemasan dus kecil berisi 40 wajik, serta kemasan besar berisi 60 renteng.

“Kompetitor kami saat ini memang sudah semakin banyak, tapi rahasia Ibu dalam mengolah wajik yang legit tetap saya pertahankan. Mulai dari memilih kualitas bahan hingga proses pengolahan, saya masih turun tangan, jadi rasa wajik kletik resep Ibu tidak berubah, tetap enak,” ujar Retti bangga.
Retti pun tak ingin ketinggalan melakukan inovasi untuk wajik kletik asli olahan ibunya. Ia lalu menambahkan pilihan varian rasa seperti wajik kletik kacang hijau, nanas, dan kacang hitam yang juga enak untuk dibawa sebagai buah tangan.

Dodol Belimbing Vita Sari Rasa

Semua pasti tahu, Blitar juga terkenal sebagai penghasil buah belimbing dewa yang manis dan besar. Potensi besar ini kemudian dimanfaatkan oleh Tri Kholifah (41), yang seblumnya merasa gagal setelah dua kali menjadi TKI di Taiwan. Di tangan ibu rumah tangga ini, sejak 2003 produk dodol belimbing Vita Sari Rasa menjadi ikon oleh-oleh khas kota kelahiran Bung Karno ini.

Usut punya usut, usaha dodol belimbing ini ternyata tak sengaja digeluti Tri. Sebelumnya, ia sempat mendapatkan pelatihan singkat di kelurahan tempat tinggalnya. Tri yang tadinya masih berniat kembali menjadi TKI akhirnya memutuskan untuk membangun usaha sendiri dengan mengolah belimbing.

Kualitas belimbing yang akan dijadikan dodol pun sangat di perhatikan oleh Tri dan secara rutin ia terus mengembangkan potensi pasar dodol belimbing yang saat ini baru dijual di wilayah Jawa Timur saja. Setiap harinya, Tri memproduksi dodol dari belimbing segar sebanyak 25 kg, yang di blender. Kemudian, air belimbingnya ia jadikan sirup dan minuman segar dalam kemasan.

“Untuk wilayah Blitar, penjualan dodol belimbing sebenarnya sangat potensial, produsennya juga baru sedikit. Jadi, ini lahan yang baik untuk dikerjakan. Terbukti buah belimbing yang jumlahnya banyak di sini dapat dimanfaatkan menjadi berbagai makanan dan minuman,” terang Tri yang juga berniat mengajak para ibu rumah tangga untuk mau memulai usaha seperti dirinya.

Harga dodol belimbing buatan Tri juga tergolong sangat murah. Kemasan isi 12 dihargai Rp 5 ribu, sedangkan untuk kemasan 500gr dihargai Rp 9 ribu. Dodol Belimbing Vita Sari Rasa bisa di dapatkan di sejumlah toko oleh-oleh yang tersebar di Blitar atau langsung mendapatkannya dengan harga khusus di tempat produksinya di Jl. Rambutan No.86 RT 03 RW 04, Karang Sari, Blitar.
Alkin System