Rabu, 12 September 2012

Perjalanan Sang Tuna Wisma Menjadi Miliarder


Chris Gardner Lahir di Milwaukee, Winconsin pada 9 Februari 1954, dengan nama lengkap Christopher Gardner kehidupannya dimulai dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, yang diasuh oleh orangtua tunggal, yaitu ibunya. 

Ibunya yang bekerja sebagai guru dan juga mengambil berbagai pekerjaan sambilan masih saja tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Ayah, adalah pribadi yang tidak pernah ia kecap dan itu sangat mempengaruhi kehidupannya. Dalam pertumbuhannya, Gardner berpindah dari rumah saudara ke rumah panti asuhan. Hingga Gadner memasuki sekolah militer, Gadner baru tahu bahwa tempat terburuk di dunia ini adalah rumah dimana ia tinggal bersama ibunya dan ayah tirinya. Penyiksaan yang diterimannya dari ayah tirinya ternyata lebih kejam dari pada disiplin militer Amerika Serikat.

Setelah putus sekolah tinggi, Gardner berbohong tentang usia dan bergabung dengan US Navy. Ia berharap untuk menjadi seorang tenaga medis dan bisa keliling dunia, tetapi itu tidak pernah dicapainya. Ia hanya sampai di North Carolina. Namun, pengalaman itu memperkenalkan Gardner ke ahli bedah jantung, yang kemudian mempekerjakan Gardner sebagai asisten penelitian klinis di University of California Medical Centre di San Francisco. Gardner menikmati pekerjaan, tetapi ia hanya memiliki penghasilan $ 7,400 per tahun dan ia ingin lebih.

Gardner bermain-main dengan gagasan untuk menjadi seorang dokter, tapi ia memutuskan bahwa tahun-tahun melunasi pinjaman untuk sekolah medis bukanlah untuk dia. Sebaliknya, ia menjadi penjual alat medis, dengan penghasilan $ 16.000 per tahun. Dia memuat peralatan ke mobilnya pada suatu hari dan sesuatu terjadi yang akhirnya mengubah kehidupan Gardner untuk selamanya. Ia melihat Ferrari merah terang dan langsung jatuh cinta pada semua yang diwakilinya. “Saya bertanya kepada pria pemilik Ferrari itu dua pertanyaan,” kenang Gardner. “Salah satunya, ‘Apa yang Anda lakukan?’ Yang kedua adalah,’ Bagaimana Anda melakukan itu? ‘”

Seperti sudah ditakdirkan, pengemudi Ferrari adalah seorang pialang saham. Ketika Gardner mendengar bahwa orang itu berpenghasilan lebih dari $ 80.000 sebulan, ia memutuskan bahwa menjadi pialang saham adalah masa depannya. Dia tidak punya pendidikan, tidak ada pengalaman, dan tidak ada koneksi, tapi itu tidak menghentikan Gardner dari mencapai mimpi barunya.


Banyak Kemalangan

Kemalangan hidup yang dialami bersama anaknya justru kian bertambah pasca kepergian istrinya. Tagihan pajak yang belum dibayar membuat pihak IRS menyita uang tabungan Chris Gardner. Kemudian dia juga diusir dari apartemen karena menunggak pembayaran. Mobil satu-satunya milik Chris Gardner pun diamankan karena Chris tidak membayar uang parkir.

Chris Gardner tetap tegar dan mencoba mendaftar pelatihan untuk menjadi pialang saham pada perusahaan pialang saham Dean Witter. Pada pelatihan itu Chris tidak mendapatkan bayaran. Dia bersama 19 orang peserta lainnya bersaing untuk menjadi satu orang yang akan dinyatakan lulus dan dapat bekerja di perusahaan tersebut. Kali ini dia menjadi pemenangnya, sebagai satu-satunya orang yang terpilih menjadi pialang.

Pada tahun 1983 bergabung dengan Bear, Stearns & Company. Setelah menjadi seorang penjual dengan penjualan tertinggi di San Francisco dan kemudian di New York, Gardner keluar dan Pada tahun 1987, Chris Gardner mendirikan perusahaan pialang, Gardner Rich & Co, di Chicago, Illinois, sebuah perusahaan pialang yang mengkhususkan diri dalam pelaksanaan utang, ekuitas dan transaksi produk-produk derivatif untuk beberapa lembaga terbesar negara, pensiun publik dan serikat pekerja .” Perusahaan baru itu

dimulai nya di apartemen kecil Presidential Towers, dengan modal awal sebesar $ 10.000 dan perabot: meja kayu yang berfungsi sebagai meja makan keluarga. Gardner dilaporkan memiliki 75 persen dari perusahaan pialang saham dengan sisanya dimiliki oleh perusahaan hedge fund. Dia memilih nama “Gardner Rich” untuk perusahaannya karena ia menganggap Marc Rich, pedagang komoditi yang diampuni oleh mantan presiden Bill Clinton pada tahun 2001, “sebagai salah satu perusahaan berjangka yang paling sukses di dunia.”

Setelah Gardner menjual sahamnya di Gardner, dalam kesepakatan jutaan dolar pada 2006, ia menjadi CEO dan pendiri dari Christopher Gardner International Holdings, dengan kantor di New York, Chicago, dan San Francisco. Selama kunjungannya ke Afrika Selatan untuk mengamati pemilu saat Peringatan 10 tahun berakhirnya apartheid, Gardner bertemu dengan Nelson Mandela untuk membicarakan kemungkinan investasi di Afrika Selatan dan pasar-pasar baru seperti ditunjukkan dalam otobiografinya pada 2006. Gardner dilaporkan mengembangkan usaha investasi dengan Afrika Selatan yang akan menciptakan ratusan pekerjaan bagi jutaan orang. Gardner menolak mengungkapkan rincian proyeknya sambil mengutip undang-undang sekuritas.

Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

Seorang yang Dermawan

Belajar dari perjalanan hidupnya yang lumayan rumit dan penuh liku, dia terinspirasi memberikan motivasi kepada orang lain, agar mereka belajar dari kisah hidupnya. Dia selalu menekankan tentang kunci pemberdayaan diri, mengalahkan ketidakmungkinan dan memecahkan rutinitas. Gardner juga seorang dermawan yang murah hati dan berdedikasi ke banyak organisasi organisasi amal. 
Gardner mengulurkan tangannya ke banyak program untuk melayani orang tanpa rumah, memberikan waktunya, pertolongan, dan dana. Terbanyak diantaranya adalah gereja Glide United Methodist di San Francisco dan The Cara Program di Chicago. Di Glide, Gardner menolong pengumpulan dana, menyumbangkan pakaian pakaian dan sepatu sepatu, dan berbicara pada pelayanan pelayanan dan acara acara khusus.

Dia juga terlibat di sebuah rencana untuk me revitalisasi dan menyediakan perumahan di sekitar Glide. Di Cara, tempat untuk membantu tuna wisma dan di tempat dengan populasi beresiko tinggi seperti Chicago dengan program program pelatihan bekerja dan penempatan, Gardner berbicara di sesi konseling, membantu dengan penempatan pekerjaan, dan juga menyumbangkan pakaian dan sepatu sepatu.

Gardner melayani sebagai anggota dewan dari National Fatherfood, dimana misinya adalah untuk memajukan kesejahteraan anak anak dengan meningkatkan proporsi anak anak yang sedang tumbuh dengan ayah yang terlibat, bertanggung jawab dan ayah yang berkomitmen. Gardner adalah salah satu dari grup yang menerima penghargaan sebagai Father of the Year Award pada tahun 2002.

Gardner terutama sekali berkomitment kepada organisasi pendidikan. Dia melayani sebagai anggota dewan dari National Education Foundation dan memberikan sponsor dua penghargaan tahunan: the National Education Association’s National Educational Support Personnel Award and the American Federation of Teachers’ Paraprofessionals and School-Related Personnel (PSRP) Award. Dia juga ikut terlibat dengan serikat guru di Chicago, memberikan sponsor untuk aktivitas aktivitas dan piknik atau study tour untuk sekolah publik bagi anak anak di Chicago.

Selain dari penghargaan tahunan sebagai ayah teladan, Gardner juga diberikan penghargaan oleh komisi penyerangan terhadap wanita di Los Angeles(LACAAW) dengan penghargaan 25th Annual Humanitarian Award, dan oleh Continental Africa Chamber of Commerce with the 2006 Friends of Africa Award.

Cerita yang mengagumkan dari perjuangan Chris Gardner, kepercayaan, jiwa kewirausahaan dan devosi seorang ayah telah melontarkan ia jauh dari kemasyuran yang ia temukan di Wall Street (tempat bursa efek seperti BEJ).

Dia telah di wawancarai di acara “Evening News with Dan Rather,” “20/20,” “Oprah,” “Today Show,” “The View,” “Entertainment Tonight,” CNN, CNBC, Fox News Channel dan juga menjadi subjek berita sebagai profil di banyak surat kabar dan majalah termasuk People, USA Today, Associated Press, New York Times, Fortune, Jet, Reader’s Digest, Trader Monthly, Chicago Tribune, San Francisco Chronicle, The New York Post dan the Milwaukee Journal Sentinel. Dia juga menjadi pembicara motivasi yang sering dicari. ins

Cara suskes Chris Gardner
  1. Lakukan apa yang Anda sukai, meski yang lain tidak menyetujuinya. Sering kali kita mendengar pendapat orang lain yang akhirnya malah membuat kita down. Bukannya semangat berbisnis, kita malah jadi takut kalau rencana kita tidak disetujui orang lain. Well, ANDA-lah yang akan berbisnis, dan kalau orang lain tidak suka dengan rencana Anda, itu masalah mereka, bukan Anda.
  2. Lakukan hal yang Anda sukai, namun tetaplah realistis. Gardner bilang, hal tersulit yang pernah orang tanyakan ke saya adalah "Pilih mana:  hal yang kita cintai atau hal yang praktikal". Hal yang praktikal maksudnya hal yang secara gampang menghasilkan uang. "Saya tidak bisa menjawabnya. Sebab saya harus melakukannya.Saya sangat mencintai karir saya di financial services, tapi saya juga mencintai kegiatan menafkahi anak saya."
  3. Bangunlah bisnis Anda sendiri, janganberpikir satu-satunya cara sukses adalah dengan bekerja di perusahaan.
  4. Buat perencanaan. Jangan hanya bergantung pada keyakinan saja.Buatlah perencanaan yang jelas, menarik & konsisten. Yang paling penting: Anda harus berkomitmen pada usaha Anda. Sering sekali orang hanya semangat pada awalnya saja.
  5. Gunakan kelebihan Anda. Apakah Anda pintar meyakinkan orang, berbakat dengan hal-hal teknikal, semua bakat dan keahlian itu bisa dengan gampang Anda gunakan untuk banyak bidang pekerjaan dan aneka industri.
  6. Mandirilah, dan jaga diri Anda sendiri. Jangan mengharapkan bantuan dari saudara, teman, atau siapapun juga.Dalam berbisnis, hal-hal buruk bisa terjadi, meski begitu, Anda harus cukup kuat untuk mengangkat diri Anda sendiri.
  7. Ingatlah mana yang benar-benar penting. Di Amerika banyak orang bekerja untuk mendapatkan harta benda, kata Gardner. Sekarang, semua orang harusnya focus pada hal yang benar-benar penting:  keluarga dan teman-teman.
  8. Sekecil dan selambat apapun berkembangnya usaha Anda, tetap saja itu perkembangan yang berarti. Selama usaha Anda ada kemajuan, meski kecil, semua itu berarti.Jangan gampang menyerah dan patah semangat!

http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/01/biografi-chris-gardner.html
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d7d4ba0c740bf7ebc704d8be939bcd57&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5

Rabu, 23 Mei 2012

Tak Jadi Artis Lagi, Shinta dan Jojo Pilih Bisnis Butik

APA kabar duo Shinta dan Jojo?

Lama menghilang dari hingar bingar dunia hiburan, duo yang melejit lewat video lypsinc di situs Youtube sama sekali tak berhenti berkarya.

Bedanya, kali ini Shinta dan Jojo tak lagi berkiprah di dunia hiburan untuk menelurkan single atau terlibat dalam penggarapan iklan dan sinetron. Keduanya justru sibuk dengan aktivitas baru di dunia bisnis.

"Kita berdua memang lagi sibuk bisnis sih, lagi buka butik kecil-kecilan di Bandung," ucap Shinta saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta Selatan, Selasa (22/5) malam.

Shinta dan Jojo tak menyesal harus melepas imej mereka sebagai selebriti demi berbisnis. Menurut mereka, dunia hiburan bukanlah prioritas utama bagi pelantun "Keong Racun" ini.

"Sebenarnya kita enggak terlalu berambisi (jadi artis), kita ini kan hanya manusia biasa bukan artis juga, hahaha," tambah Jojo.

Afgan lirik bisnis online store dan kafe

Kenal dengan Afgan? Selama ini, artis yang satu ini lebih dikenal dengan profesinya sebagai penyanyi.

Namun, jangan salah lho. Ternyata, pria bernama lengkap Afgansyah Reza ini telah menyiapkan masa depannya dengan berbisnis.

Bisnis apa ya kira-kira?

Menurut Afgan, dirinya belajar bisnis pakaian yang dipasarkan melalui Internet (online store) dan kafe.

Penyanyi berkacamata ini telah merintis online store miliknya bersama salah anggota keluarganya.

Keterlibatan Afgan dalam bisnisnya itu lumayan berpengaruh. Selain bertindak sebagai investor, penyanyi kelahiran Jakarta, 27 Mei 1989 ini juga aktif berpikir menyusun strategi supaya produknya bisa laku di pasaran.

“Strategi bisnis biasanya kami [bersama sang kakak] pikir secara bareng-bareng,” katanya di Bandung beberapa waktu lalu.

Setelah bisnis online store, saat ini Afgan sedang menyiapkan kafe. Konsep kafe yang sedang disiapkan adalah lebih santai karena konsep itulah yang mayoritas dicari penikmat kafe.

“Sekarang aku dengan kakak sedang mikirin rencana bikin launch and cafe,” tuturnya.

Terjunnya Afgan ke dunia bisnis itu disebabkan boleh dikatakan untuk investasi masa depan. Investasi ke dunia usaha dinilai menguntungkan bila dibandingkan dengan berfoya-foya.

Itu bukan isapan jempol belaka. Afgan rajin menyisakan hasil jerih payahnya di dunia menyanyi dengan cara menabung.

“Aku pokoknya rajin menabung. Selain untuk bekal masa depan, tabungan itu juga untuk investasi bisnis yang akan aku jalani,” ujar pelantun Terima Kasih Cinta ini.(K30/yri)

Yuni Shara Bisnis Batubara untuk Biayai Sekolah Anak


Bekerja di dunia hiburan dianggap tak bisa bertahan lama. Para selebriti pun berlomba mencari bisnis sampingan yang bisa menunjang masa depan. Begitu pula dengan Yuni Shara yang menekuni bisnis batubara.

"Ini tambahan rejeki. Ini jangka panjang untuk saya. Nyanyi kan ada waktu habisnya juga. Bisnis kuliner juga jalan. Mudah-mudahan berkah terus. Keinginan saya paling tinggi adalah menyiapkan sarana untuk anak-anak saya," ujar Yuni saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (24/4/2012) malam.

Anak-anak memang menjadi fokus perhatian Yuni. Ia pun menjalani bisnis batubara itu dengan harapan bisa menyekolahkan kedua anaknya ke luar negeri.

"Semuanya penuh perhitungan. Butuh modal, sekolah yang tinggi di luar negeri sedini mungkin. Selagi bisa saya siapkan untuk anak-anak, termasuk asuransi, supaya nggak merepoti orang lain," sambungnya.

Yuni pun mengaku sudah menekuni bisnis ini sejak lama. Ia belajar sendiri sampai sekarang bisa berjalan dengan lancar.

"Pekerjaan itu memang udah diatur dan kebetulan. Udah tiga tahun lebih kok. Cuma saya nggak pernah bilang-bilang ya. Saya anak ekonomi ya, kalau bisa mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya dengan modal sedikit, ya kenapa enggak. Kita harus menjemput rejeki itu," pungkasnya.

Sukses Turun 95 Kg Setelah Dijuluki Wanita Balon Udara

Naik balon udara adalah impian dari ibu tiga anak bernama Jane Qualthrough. Sayangnya ia tidak diizinkan naik lantaran kelebihan berat badan. Momen ini menjadi penyadar bagi dirinya yang selama ini merasa nyaman dengan tubuhnya yang obesitas.

Kejadian ini berlangsung saat dirinya pergi liburan ke Australia bersama putrinya 3 tahun lulu. Saat hendak menaiki balon udara, ia dijelaskan bahwa berat tubuhnya yang 175 kg akan membuat balon udara tidak bisa naik.

"Kejadian yang memalukan. Ada foto diriku dengan latar balon udara saat itu. Aku si Ibu Balon Udara," ujarnya kepada Dailymail. Kejadian ini membuat wanita yang berusia 48 tahun tersebut merenung, berniat ingin menurunkan berat badan dan mengubah gaya hidup.

Diakuinya pula, sejak berpisah dari mantan suaminya 12 thttp://www.blogger.com/img/blank.gifahun yang lalu, ia memiliki tiga anak, Joshua (23), Jasmine (20) dan Maxine (18). Ia depresi dan jatuh cinta pada makanan. Menghabiskan sehari-hari menghabiskan biskuit dan es krim sambil nonton TV. Ia juga mengatakan bahwa ia membenci dirinya sendiri dan ingin mati.

Sejak kejadian balon udara, ia bertekad untuk makan sehat dan berolahraga. Alhasil dalam kurun waktu 14 bulan, ia berhasil memangkas 95 kg dari tubuhnya. Tubuhnya yang lebih ramping membuat dirinya lebih percaya diri dan menemukan pria idamannya, Barry Uran bulan Agustus lalu.

Kini dengan bobot 76 kg, ia merasa seperti berumur 18 tahun lagi dan menjadi wanita yang beruntung. "Empat tahun lalu aku siap mati, dan kini hidupku baru saja dimulai.


sumber

Senin, 21 Mei 2012

Berawal dari Susahnya Cari Makan, Kini Rony Jadi Miliarder

Mementingkan motivasi ketimbang mewujudkan ambisi membuat Rony Suhartono akhirnya sukses berbisnis kaus hingga sekarang. Saat ini, usahanya yang menggunakan bendera Radja Kaos menghasilkan omzet hingga Rp 1 miliar sebulan.

Di tengah sorotan publik terhadap pelaksanaan pemilihan kepala daerah atau lazim disebut pemilukada yang memboroskan bujet, ada pengusaha yang justru memetik untung dari momentum ini. Ia adalah Rony Suhartono. Sebab, semakin banyak pemilukada digelar, pesanan kaus ke CV Radja Kaos miliknya bakal semakin banyak.

Biasanya, dalam sebulan, Ronny hanya mengerjakan 200.000 potong kaus. Tapi, di saat ada pemilukada, pesanan bisa melonjak sampai 500.000 potong kaus sebulan. Dari pesanan itu, omzet yang ia raup bisa mencapai Rp 2 miliar.

Pencapaian bisnis Rony saat ini tidak datang dalam semalam. Sekitar 25 tahun lalu, ia hanyalah seorang anak ingusan dari sebuah desa kecil di Tuban, Jawa Timur. Orangtuanya berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Sejak kecil, sulung dari tiga bersaudara ini hidup pas-pasan.

Beruntung, di kelas, Rony tergolong anak pintar. Selain selalu meraih ranking satu, ia juga siswa teladan. Prestasi itu membuatnya berhasil masuk ke SMP dan SMA terbaik di Tuban. Selain selalu menjadi Ketua OSIS, ia juga aktif dalam organisasi keagamaan di sekolah.

Selulus SMA, sadar kondisi keuangan keluarganya pas-pasan, Rony tak berani bermimpi meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Namun, salah seorang temannya menantangnya ikut tes Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Semua biaya tes ditanggung. Rony setuju. Ia memilih Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia (UI).

Dasar otak encer, pilihan Rony masuk UI ternyata tembus. Bukannya senang, sang ayah malah pusing tujuh keliling. “Kami tidak punya uang untuk mendaftar ulang,” ujar Rony. Alhasil, sang ayah menjual dua kambing peliharaan untuk biaya anaknya pergi ke Jakarta. Hasil penjualan kambing senilai Rp 600.000 itu juga menjadi modal awal Rony hidup di Ibukota pada tahun 1994.

Meski sudah tiba di Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta, Rony butuh tiga hari untuk menemukan kampus UI di Salemba. Repotnya, setelah menemukan kampus itu, ada pengumuman bahwa pendaftaran ulang mahasiswa baru dilakukan di kampus UI Depok. Rony terpaksa menempuh perjalanan Salemba-Depok dengan berjalan kaki.

Belum habis rasa lelahnya, Rony dikagetkan dengan biaya daftar ulang yang mencapai Rp 800.000. Padahal, uang bekal dari kampung sudah terpakai sebagian. Kembali ke Tuban juga butuh waktu dan biaya. Alhasil, ia terancam gagal mendaftar ulang. Akhirnya, ia nekat menghadap Rektor UI untuk minta penangguhan pembayaran.

Menjalani masa kuliah juga bukan hal mudah bagi Rony. Tak sanggup bayar uang sewa pondok, pria kelahiran 17 Februari 1975 ini terpaksa tinggal di masjid kampus UI. “Saya biasa tidak pegang uang berbulan-bulan,” kenangnya. Ia juga tidak bisa mengandalkan kiriman duit dari orangtuanya.
Rony lantas mencari cara agar bisa tetap makan. Setiap malam, ia membantu pedagang pecel lele supaya mendapatkan seporsi makan malam. Kalau sedang sepi, ia mencabuti singkong liar di hutan UI untuk dimakan selama berbulan-bulan.


Proyek dari rektor

Untuk menutup biaya kuliah, Rony mesti putar otak. Sambil berkuliah, ia berjualan teh botol di kampus. Tak hanya itu, ia pun mencari objekan dengan menjual diktat-diktat catatan kuliah. Di malam hari, ia juga kerap berjualan buah di Pasar Minggu. Uang hasil kerja kerasnya itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Lumayan bisa buat bayar SPP kuliah,” kisahnya.

Di tahun 1997, ketika genderang reformasi ditabuh, laiknya mahasiswa lain, Rony ikut berjuang dalam gerakan mahasiswa untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto. Saking semangatnya jadi aktivis, Rony yang juga menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) di UI justru malah lama lulus.

Saking lamanya kuliah, sang rektor sampai menawarkan proyek penyediaan konveksi perlengkapan mahasiswa baru asal Rony bergelar sarjana. Diberi kerjaan, ia semangat. Ia lantas membangun jaringan bisnis secara perlahan. Rony menghubungi pedagang-pedagang kaus di Jembatan Lima, Jakarta Barat yang ia kenal.

Di tahun 2004, bisnis konveksi Rony mulai berkembang. Permintaan kaus berdatangan, terutama dari perusahaan-perusahaan yang akan menggelar phttp://www.blogger.com/img/blank.gifrogram promosi dan acara gathering kantor.

Tahun 2006, ketika Rony sudah mulai menapaki karier di bidang politik, pasar bisnis kausnya ikut bergeser. Ia lebih banyak melayani pembuatan kaus untuk partai politik. Pesanan partai untuk suksesi gubernur serta bupati atau walikota di pemilukada mendongkrak permintaan pesanan kaus.

Lewat bendera CV Radja Kaos, bisnis Rony kian menggurita. Kini, Radja Kaos tengah mempersiapkan peranti pemilihan pengurus daerah Partai Demokrat. Radja Kaos tak hanya membuat kaus, tapi juga poster dan spanduk. “Semua keperluan suksesi di partai kami siapkan,” kata Rony.

sumber

Selasa, 01 Mei 2012

Mengapa Beraninya Hanya pada Malaysia, pada Singapura Tidak?

Tulisan ini saya peoleh dari rinaldimunir.wordpress. Menurutku tulisan ini cukup menarik untuk kita cermati, agar kita mengetahui dari sudut pandang lain dan tidak hanya menerima profokasi - profokasi dari pihak lain yang sebenarnya akan merugikan kita sendiri.

Hubungan Indonesia dan Malaysia saat ini sedang memanas. Banyak pihak yang menginginkan Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Di tengah situasi yang panas itu, saya menemukan sebuah tulisan yang memandang persoalan ini dari sudut pandang berbeda. Sepertinya ada agenda dari pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia dan Malaysia rukun. Berikut tulisan tersebut saya kutip seutuhnya.

Mengapa Kita Beraninya Hanya pada Malaysia?

Oleh: Afriadi Sanusi
Sumber tulisan: www.hidayatullah.com

SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana..”

Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?

Pertama, TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan sebagainya. Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Kedua, banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.

Ketiga, identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah, perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu dimuseumkan. Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid dan surau di Singapura.

Keempat, pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah membuat rakyat RI sengsara selama ini (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang baik terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian ekstradisi.

Kelima, banyak rakyat, nelayan dan petugas kita diacungi senjata berat dan diusir dengan pengeras suara karena disangka telah melintasi garis batasan laut kepunyaan Singapura.

Malaysia Lebih Baik dari Singapura

“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI. Triliyunan uang TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat dibayangkan, bagaimana dampak sosial, ekonomi dan budaya yang akan berlaku di Indonesia kalau TKI pulang sekaligus.

Faktanya, TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang keberadaannya hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka sangat perlu dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan manfaat yang berarti kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak memberi manfaat.

Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini. Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah Malaysia dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan tinggi negeri Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas, infrastruktur dan kemudahan lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia tentunya.

Sebagai warga asli Indonesia, penulis tidak merasa sakit hati kalau ditilang oleh polisi Malaysia. Karena kami yakin, uang itu pasti akan masuk ke dalam kas negara untuk pemerintah Malaysia memperbaiki jalan, jembatan, lampu jalan yang aku gunakan setiap hari di negara ini.

Sebalinya, saya sering sakit hati jika ditilang oleh polisi Indonesia. Karena kami yakin, uang itu belum tentu masuk kas negara. Bahkan ada yang masuk pribadi polisi, keluarga dan golongannya tanpa dikembalikan kepada ke negara untuk membangun infrastruktur.

Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi oleh rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh segelintir orang yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam, Melayu dan Nusantara yang kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di negaraku begitu mudah emosi?

Pengalihan Isu

Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat terhadap berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI, Century, Rekening Gendut Polisi, kenaikan BBM dan harga bahan pokok, penangkapan Susno Duadji, buruknya birokrasi dan pelayanan publik, maraknya korupsi, pelemahan KPK, gagalnya sebuah kepemimpinan, meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, perbuatan kriminal, buta huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan institusi pemerintahan, dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti kepada rakyat.

Isu “memanasnya” hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang telah, sedang dan akan berlaku.

Damaikanlah Saudaramu

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam sebuah wawancara khusus dengan hidayatullah.com [“Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya], mengatakan, dalam buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam “Melayu Raya”. Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai “alam Melayu”, atau di Indonesia dikenal istilah Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia ke-2. Saat itu, ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Intinya, ada hasrat untuk bersatu.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk banyak warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.

Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat “satu rumpun” untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya saja, jika berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar.

Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan kotoran ke Kedutaan Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan menyakitkan hati dan membuat hubungan bukan makin mendekat, tapi malah menjauh.

Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan orang-orang cerdas di Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah, ICMI, HMI, dll., namun warga Indonesia harus lebih peka dan mencari tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik agenda mereka?

Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh pihak asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?

Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media Malaysia. Namun akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’ hubungan Indonesia-Malaysia, ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar politik di berbagai media massa, seperti oleh Samy Vellu, Bernama dll.

Ada dua kemungkinan mengapa mereka menanggapinya. Pertama, untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat menjelang hari kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Kedua, mungkin juga dimanfaatkan oleh keturunan China dan India Malaysia yang memang kurang suka dengan hubungan baik Indonesia-Malaysia. Karena ini akan menguatkan kepentingan mereka dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di Malaysia.

Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia? Apakah kita tetap ngotot mengajak perang dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu Riau, Palembang, Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, karena kita seagama Islam dan satu rumpun melayu?

Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita diselundupkan, tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang menguras minyak kita dengan Caltexnya? yang menguras gas kita dengan Harunnya dan sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan, ekonomi dan sosial rakyat?

Apakah kita takut pada Singapura karena mereka memiliki peralatan perang yang sangat canggih dan jauh meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat takut, karena para pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan Singapura yang menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.

Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap perusahaan penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor di Indonesia.

Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah, maka akan sama-sama kita dengar, tiga, lima bulan lagi. Malaysia akan membeli peralatan perang yang baru, Amerika pula akan menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman utang, untuk membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal perang bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.

Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat.” (QS: al-Hujurat ayat 10)

*)Penulis yang berasal dari Sumatera, PhD. Candidate Islamic Political Science, University of Malaya, Kuala Lumpur
Alkin System